Senin, 28 Oktober 2019

Memandang Pandangan

Furi

Permai nan tenang sejauh netra menelisik
Enceng gondok di tepian waduk, teratai mengapung serta lilitan tumbuhan menjalar
Melati putih dengan harum yang berbeda

Ada perasaan lega ikut terurai
Nyanyian pecah jangkrik di persembunyiannya pun auman katak hijau pekat yang tak lagi menyeramka

Dua kali mengerjap semakin hati bersuara senang
Adakalanya pengalaman bukan hanya pengalaman belaka melainkan pembelajaran tersirat tanpa maksud tersurat

Nadra suara semesta ikut bersenandung lewat gerimis kecil
Gonggongan Febry menyentak kesadaran barang sejenak
Apa yang tertera di depan sana

Nnyiur bukan, sebongkah rangkaian bunga berlatar pepohonan rindang dan pelataran bersih tidak
Ikut meringis melihat objek lebam di hadapan

Duplikat lain dari duo kembar si saudari kembar
Amat menyedihkan tetapi gurat tak melukiskan fakta
Hengkang sesaat lalu kembali menghadiahi kartu ucapan, alibi membaca jarak jauh



Siantar, 28 Oktober 2019






Sabtu, 26 Oktober 2019

Sabtu Malam

Furi

Pertama kali menginjak tanah kelahiran tepat usia nol tahun
Euforia tak pernah sama semenjak ribuan hari lalu
Riskan kenyamanan pun keamanan rohani sebab perang batin selalu bergulir
Derita bukanlah hal yang pantas terucap, karena memang bukan sebuah penyiksaan

Empat puluh tujuh hari waktu itu kulalui teramat rumit
Bingung tuk mengadu atau menyampaikan maksud kesalahan rantai dengan siapa
Air muka jengah pada kenyataan yang kian melejit sesak

Tahun berganti dengan cepatnya
Anak domba kesakitan hampir menutup mata sepenuhnya
Nama tinggal nama, pada dasarnya belum tersematkan dan detik itu tertambal demi kesembuhan

Walau di tempat yang sama namun jiwa raga tak lagi sanggup bersahabat
Apa saja yang tertulis tipis hanya rasa tak suka, selalu
Kurun waktu tak ikut campur meski sering mengandalkan diri demi tak kehilangannya

Tarian pena bersibobrok jua jarang terjadi lagi
Ukiran rautan rotan lain tinta itu ikut meluruh dengan sendirinya

Kapan Sabtu malam seperti beberapa waktu lalu tercipta kembali, dengan nuansa dan kemerekahan baru
Istana yang pernah terbangun hanya dalam hitungan jari
Nyala sebentar redup berkepanjangan
Infra merah menyelimuti bagaimana sabarnya diri tuk menahan, bertahan




Siantar, 26 Oktober 2019

Jumat, 25 Oktober 2019

Bintang Sirius

Furi

Zig-zag maupun vertikal horizontal
Orion berdasarkan gugusan lampu sebagai kunci jawaban
Dibanyaknya jejeran lintang berbagai macam nama
Indah pandangan cukup terpaku pada satu objek saja

Aroma bagai mukosa sebagai daya tarik tersendiri, cendana putih dan ranting berkilat kuasa hendak bertanding
Ketika menengadah dalam sayu, cantik luar biasa

Cuitan selembut sutra bergulir mendayu dramatis halnya peganganku di lempeng besi
Amat mempesona sekali-dua kali menoleh sekilas
Puri Renjani, menjadi tempat persinggahan guna menyaksikan langsung eksistensimu dengan mata telanjang

Rasi Canis Major dimana letakmu sungguh anggun
Ingin memetik layaknya lembayung pun memiliki dalam artian sesungguhnya
Calista kalah sempurna darimu bahwa menjamu dapat kulakukan, keistimewaan tiada akhir

Operan berbuntut angin menggumpal dan mudah terurai namun, pedih jika itu yang lain sedang banyak kabar mereka bagian darimu yang jahanam
Rudita sebagian orang yang tahu tujuan serta maksudmu
Nona blonde berkepang satu miring lengkap bingkai silindernya merapalkan berjuta doa





Siantar, 25 Oktober 2019

Lalala

Furi

Gemerincing,
Lantunan berpola tanpa syair permusikan
Menuliskan cerita pada lembaran bukan akhir
Penuntun mengeruk jati diri sang sahabat

Bukan derap jika kalap
Membisu ketika kedok yang terbaca dengan mudahnya
Ayam jantan berkokok
Lalala

Jeritan tanpa harus menoleh
Menyikapi tak harus gertakan atau geraman sepintas
Walau hari semakin gelap
Halilintar bersenandung pekat

Lalala,
Jurusan baru singkronisasi gerakan
Ketukan yang mencuti permainan tambahan
Dan keluaran terbaru cipta dasar muka

Lagi-lagi harus dengan sedikit penentangan
Adu jotos sarat akan permintaan
Saat simfoni kutuangkan bulat-bulat
Harmoni juat kurang menganga


Siantar, 24 Oktober 2019

Rabu, 23 Oktober 2019

Sepotong Rindu dan Segenggam Asa

Oleh : Furi

Hari berlalu kian bertambah cepat saja padahal rembulan masih enggan menyapa
Apabila kutertawa merdu kicaunya tak sampai ke benak seseorang
Risau terus menghantui berharap kehadiranmu kembali
Inikah titik fungsi yang dominan sebab penuh kegundah-gulanaan

Bagiku, yang tak cukup sekardus pengecualian
Andai kau masih di sisi, menemani walau selalu berdampingan dengan kericuhan
Rusukmu yang kau janjikan atas kepingan diriku
Untuk kisah panjang tanpa usai

Uluran tangan beserta jemari kokoh yang setia merangkum ruas-ruasku
Namun, keadaan mencekik kenyataan pahit tentang kita
Tuntunan kamuflase seiring perguliran waktu menanti pengharapan tetap
Untuku pun untukmu
Kebersamaan di bawah teriknya atmosfer bumi kala itu

Masihkah sanggup diri ini bersuka cita menyambut hal baru sebangsamu
Akankah bisa berkata lantang bahwa jiwa ini tegar
Sia-sia memanjat pinang dalam air kalau saja berenang ke atas lebih baik
Arus kan membimbingku dengan sendirinya, keyakinan

Belum cukup lelehan yang selama ini mengguyur sendu
Awalnya mencekam sarkas
Rusak sebelah tak mengapa asal semua tentang kita tetap
Utuh bersama ikatan kuat yang kau bawa sampai menutup mata



Medan, 23 Oktober 2019

Selasa, 22 Oktober 2019

Menyelam

Oleh : Furi

Selamat malam,
Sapuan lembut dan hangat menggetarkan tempat tersendiri dalam hati
Permulaan yang langsung menuju isi sebab tiada kata tuk menggambarkan bagaimana dirimu

Potongan-potongan kisah persegi maupun bundar seakan tertuju padamu
Selirih hardik mengutuk detak, kian jatuh membawa ke kenyamanan yang kau tawarkan
Zumba di pertengahan malam larut terheyak semua tentangmu

Teruntuk Iron man versiku dengan segala kenyataan keju menggelitik senyum
Menorehkan bagian sisi cerah yang belum pernah orang lain temui

Pemeran kaku beserta opini liar khalayak tentangku
Tutup rungu tak berdasar, segala rentetan kalimatmu terus menyihir
Semesta menertawai pergerakan lambanku lagi-lagi karena terlambat menyadari eksistensi pangeranku kala itu

Dapat terbang tanpa membawa keharuan
Ingin terus selalu begitu bersama tampang dingin tak terbantahkan, milikmu
Bahasa tubuh dan secuil ungkapan ringan membagi perasaan berbunga
Guna menyerbu kecupan singkat selamat tidurku sebatas figura



Medan, 22 Oktober 2019









Request tema puisi kuy, mau?
Tulis di bawah yes😉

Senin, 21 Oktober 2019

Pintu tak Berpintu

Oleh : Furi

Yang baru saja berdatangan dari luar ruang mengajarkan keberanian tak terbatas
Semenjak hadir tirai-tirai dari berbagai cangkang kerang maupun bahan elastis lainnya
Penyusupan berbagai ide atau kreatifitas membludak

Dari pelancong hingga tuan rumah sendiri
Keluar masuk tanpa pandang kisi, lalu-lalang terus tiada henti

Saat mentari di ufuk Timur tak kuasa hati nenerobos dalam bahagia mendera
Ketika berlabuh pada bagian Barat petangnya amat mengagar

Suara batin selaras rundung pilu, akankah kebersamaan yang menjerat kuat ini kian melonggar
Meski baru awal dan dalam fase rawan sebab mendapat restu atas permainan
Suram di tempat tanpa ruang, namun sekeliling penuh jurang
Pajangan lukisan di plafon bak penghalang tempias masuk

Renda hitam putih yang semula menempel sendu kuganti merah menyala bersama pernik
Lintingan garis pinggir pada kain biru mampu kulepas tegas
Walau tak semudah berucap dan satu raga kuat memperjelas, bukan lagi semangat tapi sebuah keharusan

Pintu selebar dua lengan anak remaja itu tertutup rapat, sangat
Terbilang kokoh sementara guyuran lain terus menghujami
Jendela yang tak secantik mansion orang-orang berduit namun berdampingan dengan daun penghubung alam bebas

Di sana,
Tutur tak sanggup berlisan serta tawa terasa canggung
Terpaan lembut menyapa surai tuk dibawa ke dalam sebuah pelukan
Lagi, tamu sungguhan melewati jalur pintu yang sama
Mengetuk lembut dengan cara yang beragam




Medan, 21 Oktober 2019