Dalam Perjalanan
Furi
Hampir tengah malam, menembus dinginnya tiupan angin beserta pendingin ruangan kuda besi Ayah. Lalu-lalang kendaraan seakan tontonan wajib untuk malam akhir pekan kali ini.
Kala lelah menyambangi turut menuntun pulas sampai terjaga yang kesekian kalinya, tetap sorot lampu jalan dan roda empat lainnya.
Kilometer tak sanggup kuperhitungkan, berkalung selimut pastel jua menaikkan suhu buatan. Hati berkecamuk entah berantah, berharap semoga esok terbangun masih dalam suasana seperti biasa.
Aspal hitam bergaris putih memaku penglihatan barang sejenak. Seperti; jangan melewati garis pinggir. Barisan dedaunan bagai penghantar guna mengiringi.
Jalanan yang berkelok, menanjak, hingga berputar arah. Layaknya gambaran jiwaku saat itu, bersama alunan musik era masa terbaru. Dalam diam, mewanti segera sampai dan menang hingga sejahtera.
Medan, 5 Oktober 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar