Rabu, 09 Oktober 2019

Simpan Rasa

Furi


Bimbang yang tak wajar selalu mengelabui diri
Saat petang dan fajar, meski terasa mencekik di pangkal lidah namun selalu tak bisa berucap

Pada keheningan nuansa jingga kemerahan Selasa waktu itu
Nyaris diri memekik kala ragamu melintas di hadapan
Pengangum rahasia kata mereka, tapi skalaku lebih dari ungkapan orang
Sementara jiwa merintih pilu tak kuasa menahan sedang ego enggan tuk mengalah

Debaran kian mendera garang tiap waktunya
Takut akan penolakan serta malu sebab kodrat bukan lintasanku
Tahu diri, pembatas yang kuciptakan karena memang tabiat kaumku

Panah asmara tak lagi ampuh guna menggambarkan suka terhadapnya
Debuman tak kasat mata serta limpahan cinta semakin kuat
Keinginan dalam suatu ikatan sakral terlalu berlebihan, nyatanya impian sekedar impian

Simpan rasa,
Menyisipkan tiap bait nama dan lagumu dalam doa
Kau pejalan sempurna di tengah licinnya jalanan lengang sehabis hujan
Reda yang membawa rindu lagi menghidupkan sengatan paksa
Terus berdiam tanpa kata, terus mengingkar hingga jengah

Penanti wawasan raktan sampai memuntahkan buih
Sejauh langkah tercipta menyampaikan tak kunjung tiba
Maka, berlakon semestinya demi mendalami peran kehidupan sebuah rasa yang nyata







Medan, 9 Oktober 2019

3 komentar: