Furi
Bimbang yang tak wajar selalu mengelabui diri
Saat petang dan fajar, meski terasa mencekik di pangkal lidah namun selalu tak bisa berucap
Pada keheningan nuansa jingga kemerahan Selasa waktu itu
Nyaris diri memekik kala ragamu melintas di hadapan
Pengangum rahasia kata mereka, tapi skalaku lebih dari ungkapan orang
Sementara jiwa merintih pilu tak kuasa menahan sedang ego enggan tuk mengalah
Debaran kian mendera garang tiap waktunya
Takut akan penolakan serta malu sebab kodrat bukan lintasanku
Tahu diri, pembatas yang kuciptakan karena memang tabiat kaumku
Panah asmara tak lagi ampuh guna menggambarkan suka terhadapnya
Debuman tak kasat mata serta limpahan cinta semakin kuat
Keinginan dalam suatu ikatan sakral terlalu berlebihan, nyatanya impian sekedar impian
Simpan rasa,
Menyisipkan tiap bait nama dan lagumu dalam doa
Kau pejalan sempurna di tengah licinnya jalanan lengang sehabis hujan
Reda yang membawa rindu lagi menghidupkan sengatan paksa
Terus berdiam tanpa kata, terus mengingkar hingga jengah
Penanti wawasan raktan sampai memuntahkan buih
Sejauh langkah tercipta menyampaikan tak kunjung tiba
Maka, berlakon semestinya demi mendalami peran kehidupan sebuah rasa yang nyata
Medan, 9 Oktober 2019
Bimbang yang tak wajar selalu mengelabui diri
Saat petang dan fajar, meski terasa mencekik di pangkal lidah namun selalu tak bisa berucap
Pada keheningan nuansa jingga kemerahan Selasa waktu itu
Nyaris diri memekik kala ragamu melintas di hadapan
Pengangum rahasia kata mereka, tapi skalaku lebih dari ungkapan orang
Sementara jiwa merintih pilu tak kuasa menahan sedang ego enggan tuk mengalah
Debaran kian mendera garang tiap waktunya
Takut akan penolakan serta malu sebab kodrat bukan lintasanku
Tahu diri, pembatas yang kuciptakan karena memang tabiat kaumku
Panah asmara tak lagi ampuh guna menggambarkan suka terhadapnya
Debuman tak kasat mata serta limpahan cinta semakin kuat
Keinginan dalam suatu ikatan sakral terlalu berlebihan, nyatanya impian sekedar impian
Simpan rasa,
Menyisipkan tiap bait nama dan lagumu dalam doa
Kau pejalan sempurna di tengah licinnya jalanan lengang sehabis hujan
Reda yang membawa rindu lagi menghidupkan sengatan paksa
Terus berdiam tanpa kata, terus mengingkar hingga jengah
Penanti wawasan raktan sampai memuntahkan buih
Sejauh langkah tercipta menyampaikan tak kunjung tiba
Maka, berlakon semestinya demi mendalami peran kehidupan sebuah rasa yang nyata
Medan, 9 Oktober 2019
Keren, naksir seseorangkah? Hehe...
BalasHapusKeren, naksir seseorangkah? Hehe...
BalasHapusCinta dalam diam
BalasHapus