Oleh : Furi
Lebatnya hujan yang menyiram bumi terasa amat panas mengungkung
Hari-hari selalu dipenuhi berjuta rasa terselubung
Ingin, sangat ingin mengutarakan dalam bentuk lisan tapi sadar pada siapa
Kesakitan yang setiap hari menjadi makanan seperti bagian kecil dari garis takdir
Pada sebilah senyum kugambarkan bahagia yang tiada habis
Seandainya saja,
Jika bisa bolehkah kirim seseorang untuk menjadi pendengar terbaikku
Detak jantung memompa hebat melihat bagaimana kebencian acap kali mereka torehkan
Jiwa serasa hancur, semenjijikan inikah hidupku
Tolong dengar, aksa porak poranda menyaksikan petikan sebaris dua barismu
Amat menyakitkan, aku kesepian
Atas dasar apa tuduhan tak bertuan itu gencar tercetak bebas
Katakan, dimana letak yang seharusnya kuperbaiki jika bagi kalian semua yang melekat pada diriku sudah salah
Percuma,
Adanya pembelaan dan pembuktian bahwa aku benar, jiwa-jiwa keras penyemarak kebencian akan tetap pada pendirian
Selagi masih mampu untukku, tertawa atau tersenyum adalah impianku sejatinya
Cemooh yang sering kuterima menjadi landasan kuat untukku terus mengumbar lengkungan indah
Meski, jiwa hancur sehancur-hancurnya
Hati terlalu kosong guna merasa tenang kembali
Itu pula mengapa berlakon tegar yang pasti kutampilkan
Bukankah dunia panggung sandiwara
Ringisan serta linangan samar yang pernah kutunjukan nyatanya membuatmu semakin menganggapku menyedihkan
Jika tanaman punya fase dimana mereka layu dan berakhir gugur
Demikian halnya denganku, mencari ketenangan yang abadi
Medan, 16 Oktober 2019
As you know the hot news that is rife this week. Mari bijaklah dalam menggunakan media sosial.
#Stopbullying #stopcyberbullying
Lebatnya hujan yang menyiram bumi terasa amat panas mengungkung
Hari-hari selalu dipenuhi berjuta rasa terselubung
Ingin, sangat ingin mengutarakan dalam bentuk lisan tapi sadar pada siapa
Kesakitan yang setiap hari menjadi makanan seperti bagian kecil dari garis takdir
Pada sebilah senyum kugambarkan bahagia yang tiada habis
Seandainya saja,
Jika bisa bolehkah kirim seseorang untuk menjadi pendengar terbaikku
Detak jantung memompa hebat melihat bagaimana kebencian acap kali mereka torehkan
Jiwa serasa hancur, semenjijikan inikah hidupku
Tolong dengar, aksa porak poranda menyaksikan petikan sebaris dua barismu
Amat menyakitkan, aku kesepian
Atas dasar apa tuduhan tak bertuan itu gencar tercetak bebas
Katakan, dimana letak yang seharusnya kuperbaiki jika bagi kalian semua yang melekat pada diriku sudah salah
Percuma,
Adanya pembelaan dan pembuktian bahwa aku benar, jiwa-jiwa keras penyemarak kebencian akan tetap pada pendirian
Selagi masih mampu untukku, tertawa atau tersenyum adalah impianku sejatinya
Cemooh yang sering kuterima menjadi landasan kuat untukku terus mengumbar lengkungan indah
Meski, jiwa hancur sehancur-hancurnya
Hati terlalu kosong guna merasa tenang kembali
Itu pula mengapa berlakon tegar yang pasti kutampilkan
Bukankah dunia panggung sandiwara
Ringisan serta linangan samar yang pernah kutunjukan nyatanya membuatmu semakin menganggapku menyedihkan
Jika tanaman punya fase dimana mereka layu dan berakhir gugur
Demikian halnya denganku, mencari ketenangan yang abadi
Medan, 16 Oktober 2019
As you know the hot news that is rife this week. Mari bijaklah dalam menggunakan media sosial.
#Stopbullying #stopcyberbullying
Ringisan serta linangan samar yang pernah kutunjukan nyatanya membuatmu semakin menganggapku menyedihkan
BalasHapusAku ikut terbawa sama kata-kata ini .Keren, Kak .
Mari stop bully!! Saya setuju😊 salam kenal kak aku dari kota valetta
BalasHapussudah dengar beritanya juga ya? sedih
BalasHapusBullying...memang menyeramkan. Sepanjang perjalanan melalukan kampanye ini ke sekolah dasar, temuannya selalu saja bikin miris.
BalasHapus