Senin, 21 Oktober 2019

Pada Sang Malam

Furi

Jeritan sarkasme mengawali pergerakan lambat petang itu
Sebaris anila menyusup relung menyerbu ketenangan
Jiwa-jiwa perebut kebahagiaan kulontarkan di sisi yang menyakinkan
Pemberontakan sehari semalam kian pupus tak bertuan

Ada masanya yang enggan bersuara akan menghantam besar
Keruhnya air yang mengaliri persawahan seakan mengganggu bagaimana fungsi zat sesungguhnya tuk berjalan

Kerlingan nakal berpadu-padan mencuri kesengitan belaka
Yang dapat mengendap mengibuli sesama
Guratan kesedihan, meski mahir tersembunyikan
Sekali dayungan hanya beberapa yang dapat membaca

Ketika Fajar bertamu di belahan bumi lain di sana kulimpahkan rasa tuk mengguyur sedang
Atau sekedar bersyair seirama alam
Persekian detik disaat adanya kerincing bell jingga menggema
Bersyukur tiada henti, meminta dan berusaha masih tanpa lelah

Dari hak,
Jangankan muara ke suara saja berbelit menghunus jantung berakibat lebam
Petikan senar gitar yang dewasa adalah sedikit peneman muram tiap malam



Medan, 20 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar