Senin, 28 Oktober 2019

Memandang Pandangan

Furi

Permai nan tenang sejauh netra menelisik
Enceng gondok di tepian waduk, teratai mengapung serta lilitan tumbuhan menjalar
Melati putih dengan harum yang berbeda

Ada perasaan lega ikut terurai
Nyanyian pecah jangkrik di persembunyiannya pun auman katak hijau pekat yang tak lagi menyeramka

Dua kali mengerjap semakin hati bersuara senang
Adakalanya pengalaman bukan hanya pengalaman belaka melainkan pembelajaran tersirat tanpa maksud tersurat

Nadra suara semesta ikut bersenandung lewat gerimis kecil
Gonggongan Febry menyentak kesadaran barang sejenak
Apa yang tertera di depan sana

Nnyiur bukan, sebongkah rangkaian bunga berlatar pepohonan rindang dan pelataran bersih tidak
Ikut meringis melihat objek lebam di hadapan

Duplikat lain dari duo kembar si saudari kembar
Amat menyedihkan tetapi gurat tak melukiskan fakta
Hengkang sesaat lalu kembali menghadiahi kartu ucapan, alibi membaca jarak jauh



Siantar, 28 Oktober 2019






Sabtu, 26 Oktober 2019

Sabtu Malam

Furi

Pertama kali menginjak tanah kelahiran tepat usia nol tahun
Euforia tak pernah sama semenjak ribuan hari lalu
Riskan kenyamanan pun keamanan rohani sebab perang batin selalu bergulir
Derita bukanlah hal yang pantas terucap, karena memang bukan sebuah penyiksaan

Empat puluh tujuh hari waktu itu kulalui teramat rumit
Bingung tuk mengadu atau menyampaikan maksud kesalahan rantai dengan siapa
Air muka jengah pada kenyataan yang kian melejit sesak

Tahun berganti dengan cepatnya
Anak domba kesakitan hampir menutup mata sepenuhnya
Nama tinggal nama, pada dasarnya belum tersematkan dan detik itu tertambal demi kesembuhan

Walau di tempat yang sama namun jiwa raga tak lagi sanggup bersahabat
Apa saja yang tertulis tipis hanya rasa tak suka, selalu
Kurun waktu tak ikut campur meski sering mengandalkan diri demi tak kehilangannya

Tarian pena bersibobrok jua jarang terjadi lagi
Ukiran rautan rotan lain tinta itu ikut meluruh dengan sendirinya

Kapan Sabtu malam seperti beberapa waktu lalu tercipta kembali, dengan nuansa dan kemerekahan baru
Istana yang pernah terbangun hanya dalam hitungan jari
Nyala sebentar redup berkepanjangan
Infra merah menyelimuti bagaimana sabarnya diri tuk menahan, bertahan




Siantar, 26 Oktober 2019

Jumat, 25 Oktober 2019

Bintang Sirius

Furi

Zig-zag maupun vertikal horizontal
Orion berdasarkan gugusan lampu sebagai kunci jawaban
Dibanyaknya jejeran lintang berbagai macam nama
Indah pandangan cukup terpaku pada satu objek saja

Aroma bagai mukosa sebagai daya tarik tersendiri, cendana putih dan ranting berkilat kuasa hendak bertanding
Ketika menengadah dalam sayu, cantik luar biasa

Cuitan selembut sutra bergulir mendayu dramatis halnya peganganku di lempeng besi
Amat mempesona sekali-dua kali menoleh sekilas
Puri Renjani, menjadi tempat persinggahan guna menyaksikan langsung eksistensimu dengan mata telanjang

Rasi Canis Major dimana letakmu sungguh anggun
Ingin memetik layaknya lembayung pun memiliki dalam artian sesungguhnya
Calista kalah sempurna darimu bahwa menjamu dapat kulakukan, keistimewaan tiada akhir

Operan berbuntut angin menggumpal dan mudah terurai namun, pedih jika itu yang lain sedang banyak kabar mereka bagian darimu yang jahanam
Rudita sebagian orang yang tahu tujuan serta maksudmu
Nona blonde berkepang satu miring lengkap bingkai silindernya merapalkan berjuta doa





Siantar, 25 Oktober 2019

Lalala

Furi

Gemerincing,
Lantunan berpola tanpa syair permusikan
Menuliskan cerita pada lembaran bukan akhir
Penuntun mengeruk jati diri sang sahabat

Bukan derap jika kalap
Membisu ketika kedok yang terbaca dengan mudahnya
Ayam jantan berkokok
Lalala

Jeritan tanpa harus menoleh
Menyikapi tak harus gertakan atau geraman sepintas
Walau hari semakin gelap
Halilintar bersenandung pekat

Lalala,
Jurusan baru singkronisasi gerakan
Ketukan yang mencuti permainan tambahan
Dan keluaran terbaru cipta dasar muka

Lagi-lagi harus dengan sedikit penentangan
Adu jotos sarat akan permintaan
Saat simfoni kutuangkan bulat-bulat
Harmoni juat kurang menganga


Siantar, 24 Oktober 2019

Rabu, 23 Oktober 2019

Sepotong Rindu dan Segenggam Asa

Oleh : Furi

Hari berlalu kian bertambah cepat saja padahal rembulan masih enggan menyapa
Apabila kutertawa merdu kicaunya tak sampai ke benak seseorang
Risau terus menghantui berharap kehadiranmu kembali
Inikah titik fungsi yang dominan sebab penuh kegundah-gulanaan

Bagiku, yang tak cukup sekardus pengecualian
Andai kau masih di sisi, menemani walau selalu berdampingan dengan kericuhan
Rusukmu yang kau janjikan atas kepingan diriku
Untuk kisah panjang tanpa usai

Uluran tangan beserta jemari kokoh yang setia merangkum ruas-ruasku
Namun, keadaan mencekik kenyataan pahit tentang kita
Tuntunan kamuflase seiring perguliran waktu menanti pengharapan tetap
Untuku pun untukmu
Kebersamaan di bawah teriknya atmosfer bumi kala itu

Masihkah sanggup diri ini bersuka cita menyambut hal baru sebangsamu
Akankah bisa berkata lantang bahwa jiwa ini tegar
Sia-sia memanjat pinang dalam air kalau saja berenang ke atas lebih baik
Arus kan membimbingku dengan sendirinya, keyakinan

Belum cukup lelehan yang selama ini mengguyur sendu
Awalnya mencekam sarkas
Rusak sebelah tak mengapa asal semua tentang kita tetap
Utuh bersama ikatan kuat yang kau bawa sampai menutup mata



Medan, 23 Oktober 2019

Selasa, 22 Oktober 2019

Menyelam

Oleh : Furi

Selamat malam,
Sapuan lembut dan hangat menggetarkan tempat tersendiri dalam hati
Permulaan yang langsung menuju isi sebab tiada kata tuk menggambarkan bagaimana dirimu

Potongan-potongan kisah persegi maupun bundar seakan tertuju padamu
Selirih hardik mengutuk detak, kian jatuh membawa ke kenyamanan yang kau tawarkan
Zumba di pertengahan malam larut terheyak semua tentangmu

Teruntuk Iron man versiku dengan segala kenyataan keju menggelitik senyum
Menorehkan bagian sisi cerah yang belum pernah orang lain temui

Pemeran kaku beserta opini liar khalayak tentangku
Tutup rungu tak berdasar, segala rentetan kalimatmu terus menyihir
Semesta menertawai pergerakan lambanku lagi-lagi karena terlambat menyadari eksistensi pangeranku kala itu

Dapat terbang tanpa membawa keharuan
Ingin terus selalu begitu bersama tampang dingin tak terbantahkan, milikmu
Bahasa tubuh dan secuil ungkapan ringan membagi perasaan berbunga
Guna menyerbu kecupan singkat selamat tidurku sebatas figura



Medan, 22 Oktober 2019









Request tema puisi kuy, mau?
Tulis di bawah yes😉

Senin, 21 Oktober 2019

Pintu tak Berpintu

Oleh : Furi

Yang baru saja berdatangan dari luar ruang mengajarkan keberanian tak terbatas
Semenjak hadir tirai-tirai dari berbagai cangkang kerang maupun bahan elastis lainnya
Penyusupan berbagai ide atau kreatifitas membludak

Dari pelancong hingga tuan rumah sendiri
Keluar masuk tanpa pandang kisi, lalu-lalang terus tiada henti

Saat mentari di ufuk Timur tak kuasa hati nenerobos dalam bahagia mendera
Ketika berlabuh pada bagian Barat petangnya amat mengagar

Suara batin selaras rundung pilu, akankah kebersamaan yang menjerat kuat ini kian melonggar
Meski baru awal dan dalam fase rawan sebab mendapat restu atas permainan
Suram di tempat tanpa ruang, namun sekeliling penuh jurang
Pajangan lukisan di plafon bak penghalang tempias masuk

Renda hitam putih yang semula menempel sendu kuganti merah menyala bersama pernik
Lintingan garis pinggir pada kain biru mampu kulepas tegas
Walau tak semudah berucap dan satu raga kuat memperjelas, bukan lagi semangat tapi sebuah keharusan

Pintu selebar dua lengan anak remaja itu tertutup rapat, sangat
Terbilang kokoh sementara guyuran lain terus menghujami
Jendela yang tak secantik mansion orang-orang berduit namun berdampingan dengan daun penghubung alam bebas

Di sana,
Tutur tak sanggup berlisan serta tawa terasa canggung
Terpaan lembut menyapa surai tuk dibawa ke dalam sebuah pelukan
Lagi, tamu sungguhan melewati jalur pintu yang sama
Mengetuk lembut dengan cara yang beragam




Medan, 21 Oktober 2019

Pada Sang Malam

Furi

Jeritan sarkasme mengawali pergerakan lambat petang itu
Sebaris anila menyusup relung menyerbu ketenangan
Jiwa-jiwa perebut kebahagiaan kulontarkan di sisi yang menyakinkan
Pemberontakan sehari semalam kian pupus tak bertuan

Ada masanya yang enggan bersuara akan menghantam besar
Keruhnya air yang mengaliri persawahan seakan mengganggu bagaimana fungsi zat sesungguhnya tuk berjalan

Kerlingan nakal berpadu-padan mencuri kesengitan belaka
Yang dapat mengendap mengibuli sesama
Guratan kesedihan, meski mahir tersembunyikan
Sekali dayungan hanya beberapa yang dapat membaca

Ketika Fajar bertamu di belahan bumi lain di sana kulimpahkan rasa tuk mengguyur sedang
Atau sekedar bersyair seirama alam
Persekian detik disaat adanya kerincing bell jingga menggema
Bersyukur tiada henti, meminta dan berusaha masih tanpa lelah

Dari hak,
Jangankan muara ke suara saja berbelit menghunus jantung berakibat lebam
Petikan senar gitar yang dewasa adalah sedikit peneman muram tiap malam



Medan, 20 Oktober 2019

Jumat, 18 Oktober 2019

Jenuh

Furi

Semula perpindahan pijak sudah tak nyaman bagiku
Berbagai macam kemungkinan-kemungkinan seakan menghantui
Celotehan yang bukan apa-apa mendasari sejauh mana kealibian mereka

Pertikaian yang selalu pada topik itu lagi-itu lagi
Himpunan dan jajaran kreatifitas semprotan kecil makna milikmu
Sebab, sebagian besar utuh cibiran

Menarik pengetahuan dari cendramata buah simalakama yang tanpa engah
Meliputi kabar rawan tengah lempar simpan
Bercokol sarkas tapi tetap meminta bahkan membutuhkanku
Keadan siapa yang menjadi benalu di saat seperti ini bukan lagi pertimbangan lima jari

Titipan pesan sarat bukan saran beserta jangkauan medan perang
Bibir terlampau manis semata-mata bingkisan belaka

Jauh di dalam lubuk hati ingin bersuara lantang serta lugas
Meluruskan serpihan ranting yang bengkok sana-sini akibat terpaan angin lebat
Sayang, pagi itu cuaca ikut tak suka mega terang hingga hampir badai
Satu yang kuyakini tanpa ingin memberi gambaran pun kekuatan, sampai bisa mempersembahkan suguhan kemenangan




Medan, 18 Oktober 2019

Kamis, 17 Oktober 2019

Pembicara Mutlak

Furi

Ada walau tak semua pribadi yang kukenal menanam sifat demikian
Terus berputar membanggakan mengumumkan bahwa dirinya selalu hebat, terlampau yakin

Mandevilla lepas serabut berjiwa sayu
Akarnya tertimbun di dalam sana namun, cengkramannya bukan main melilit lebat
Podium di atas teratai berujar singgasana dari emas, sedang kaos oblong gombor berdalih lencana logam mulia

Sederet nyaris tak terhitung jari,
Pada torehan pun jangkauan biasa berdedikasi tetap sama
Menarik sekilas awal peradaban, masa tak tahu menahu kian melejit sesukanya

Cawan retak itu yang selalu berkibar sumringah sembari mengintip jari
Nampan kaleng jadul tertumpu sampul berdempul kelabus
Sepintas pola dengan isinya tidak jauh berbeda
Pabo kekinian semakin gencar angkat dagu

Kebolehan yang cukup berbekal kasih sayang atau goresan buatan objek pikir
Kali kedua bersahutan dengan spesies tersebut
Mereka dan mungkin prinsip kejeniusan kalah saing dengannya, mendendangkan puitis senampa perbait
Jangankan sama atau tinggi, pada dasarnya mereka yang amat sangat mendalami peran kekanakan






Medan, 17 Oktober 2019

Rabu, 16 Oktober 2019

Tawa Luka

Oleh : Furi


Lebatnya hujan yang menyiram bumi terasa amat panas mengungkung
Hari-hari selalu dipenuhi berjuta rasa terselubung
Ingin, sangat ingin mengutarakan dalam bentuk lisan tapi sadar pada siapa

Kesakitan yang setiap hari menjadi makanan seperti bagian kecil dari garis takdir
Pada sebilah senyum kugambarkan bahagia yang tiada habis

Seandainya saja,
Jika bisa bolehkah kirim seseorang untuk menjadi pendengar terbaikku
Detak jantung memompa hebat melihat bagaimana kebencian acap kali mereka torehkan
Jiwa serasa hancur, semenjijikan inikah hidupku

Tolong dengar, aksa porak poranda menyaksikan petikan sebaris dua barismu
Amat menyakitkan, aku kesepian
Atas dasar apa tuduhan tak bertuan itu gencar tercetak bebas
Katakan, dimana letak yang seharusnya kuperbaiki jika bagi kalian semua yang melekat pada diriku sudah salah

Percuma,
Adanya pembelaan dan pembuktian bahwa aku benar, jiwa-jiwa keras penyemarak kebencian akan tetap pada pendirian

Selagi masih mampu untukku, tertawa atau tersenyum adalah impianku sejatinya
Cemooh yang sering kuterima menjadi landasan kuat untukku terus mengumbar lengkungan indah
Meski, jiwa hancur sehancur-hancurnya
Hati terlalu kosong guna merasa tenang kembali

Itu pula mengapa berlakon tegar yang pasti kutampilkan
Bukankah dunia panggung sandiwara
Ringisan serta linangan samar yang pernah kutunjukan nyatanya membuatmu semakin menganggapku menyedihkan

Jika tanaman punya fase dimana mereka layu dan berakhir gugur
Demikian halnya denganku, mencari ketenangan yang abadi



Medan, 16 Oktober 2019







As you know the hot news that is rife this week. Mari bijaklah dalam menggunakan media sosial.
#Stopbullying #stopcyberbullying 

Selasa, 15 Oktober 2019

Senandika Jilid VII


PecanduMu
Furi

      Goresan dan jabaran yang tak seberapa ini kuungkapkan untuk menggambarkan sebesar apa hati dan jiwa amat sangat mengasih. Pada Sang Cerah.

      Banyak makna yang tak kuasa terdikte tapi, denganmu semua terasa benar. Tiap pergerakan atau kegiatan bercengkrama kita yang rutin kususul.

      Berhubung Kau segala bintang dan bulan, semesta dari terdepan. Sahutan dan segala bentuk teguran kecil yang kurasa mengerikan sempurna, mengetuk rohani pada siapa kukan berpulang.

      Sedari dulu sampai detik ini, meski aku bukanlah yang terbaik jua sempurna. Namun, jalan tuk menyembahMu jalan tuk meminta padaMu jalan tuk apapun yang kupinta. Hampa tanpaMu, jiwa merintih bodoh, luntang-lantung tak kenal arah. Maka, kesempurnaan hanya milikMu, kuasaMu, krtika bersamaMu.


      Kilatan gerak diri masa lampau serta keterpurukan kala itu. Atas bantuanMu dan kehendakMu. Dari perjalanan panjang hingga nyaris melalui jalan pintas. Bersyukur tanpa kecewa begitu banyak bahwa, pilihan bergantung PadaNya tidak sia-sia.







Medan, 15 Oktober 2019

Senin, 14 Oktober 2019

Senandika Jilid VI


Resah
Oleh : Furi

      Detik dimana waktu berjalan sangat lambat dan cepat. Pikiran ikut berotasi tanpa kata, ada saat rasanya sangat ingin menangis sepuasnya atau tertawa sampai puas.

      Malam ini, berhenti sejenak dari segala kekacauan yang menyebar dalam pikiran. Sedang jari sibuk menari di atas keyboard kebangaan. Menelan pahit hingga terasa manis serta hambar ke komplit.

      Pertikian dua sejoli kasat mata tak kunjung usai, haruskah melenyapkan diri jua. Senandung dari lubuk hati terdalam masih menginginkan menghirup dan menghembuskan oksigen dengan bebas. Meski, seperti mencerna karbondioksida.

      Kepalan tangan setia menggulung pasang, sesekali layangan lima ruas jari pun ikut berpartisipasi. Tak ada kebencian dalam diri, guna berniat saja enggan.

      Banyak hal berkecamuk mengitari sekeliling hidup termasuk sesuatu yang tak terlalu penting sekalipun.

      Beberapa bait yang sungguh membuat khawatir, sementara keyakinan tak sekuat di awal. Berfikir tuk menghilang selamanya namun, bukan itu solusinya. Bagaimanapun, bila tetap bersamaNya kepercayaan diri akan kembali bahkan bertambah berlipat. Banyak jalan yang Ia tunjukkan, segala taktik baru yang aman Ia sarankan, dan kebahagiaan tiada tanding Ia janjikan.

      Jiwa-jiwa rapuh nan lemah seperti ini bukanlah diriku. Terkadang, kelelahan mampu menyulut sedikit ketenangan hati. Tak menyangkal gundah berlapis-lapis seakan datang bertubi tanpa henti.

      Jikalau semua bukan karena mereka dan diri sendiri. Entah sudah hanyut kemana raga tak berguna ini. Lagi-lagi berusaha dikerasnya sepak terjang batin pribadi.







Medan, 14 Oktober 2019

Minggu, 13 Oktober 2019

Tersakiti

Oleh : Furi

Setiap kumbang akan pulang ketika menuju petang sedang, lambang gamang nyaris melayang panjang
Petikan senar gitar muda itu dengan segala harmoni membawa kilas memori masa muda
Terlalu kenyang monolog menanggapi prolog dalam tanda petik
Seutas tambang kian mencekik atau katakan saja pengikat rapuh

Tatkala hati mencelos, mulut terbungkam, rasa meraung gusar
Adakalanya lapisan beton pun akan lemah

Alih-alih ingin tahu, kebanyakan kalimat tanya terselip tanda seru di dalamnya
Riskan kacau dan pecah namun, beruntung masih memilikiNya
Pembuktian tak selamanya tentang ramai kata, ada satu jalan cemerlang
Cuitan cendramata tiap tiba pada sangkar asli

Budi pekerti silih berganti mengantri damai
Sejujurnya tak cukup mampu menghujan bela belagak tangguh
Namun, semesta sedikit bermain
Adakah yang mengutarakan semampu tenaga urung julus setingkat padan

Detik dimana terperosot sakit semerta ria sengit terhadap diri sendiri
Penyaksian langsung memohon petunjuk arah
Karena pada dasarnya, diam seolah berimage buruk untuk sebagian orang
Khalayak berimbuh mesra mengucilkan terhadap pribadi garang bertampang lembut
Suatu saat, semoga gedoran kecil menggelitik rasa kemanusian dari sebagian besar





Medan, 13 Oktober 2019

Jumat, 11 Oktober 2019

Senandika Jilid V


Chica Cidra
Furi

Bermula dari ketidaksengajaan petang itu, dimana antrian panjang berjejal agar dapat bagian. Kukerahkan akal cerdas setidaknya agar tak tertinggal dan dapat bagian. Pengorbanan yang terkenang cukup untuk membuatku bertahan hingga sekarang.

Pekan berganti hingga bulan bertamu menyapaku yang masih dalam lingkup kegiatan dulu. Hari-hari terasa berbeda sebab pertemuan generasi baru dan hal-hal baru.

Kebahagiaan, fasenya belum sampai sana. Tapi, bagiku sudah cukup masuk kategori percobaan. Yang mula terlalu sibuk pada kenyataan bertemankan santainya kefanaan.

Segalanya berubah saat mengenal dia yang jauh dari garis hijau. Sifat kian hari kian menyebalkan dengan tingkah laku norak demi sebuah pengakuan. Ya, kupikir semua tentang bagaimana agar seluruh mata memandangnya, menatapnya ada atau bahkan hujan pujian.

Nyaris, detik itu juga aku tahu segala kelakar dramanya. Benar, guyonan lama masih karena ide yang sama.

Singkat saja, banyak mata yang memandang pula dan sadar akannya. Meski demikian, kekuasaan adalah kebanggaan dan keterpurukan baginya. Mungkin belum tapi akan segera tiba.








Medan, 11 Oktober 2019

Kamis, 10 Oktober 2019

Pilau Risau

Oleh : Furi


Geraman dari langit menggetarkan bumi kala bulan tak sudi memunculkan diri
Petang, bahkan amat sangat pekat
Lolongan alam mencakar, halnya raja rimba mengaum unjuk kebolehan

Limpahan dengung menukik tajam beserta arus yang meronta kekar
Mengaliri tiap-tiap daratan sampai terang benderang

Sebatas lutut pada kami tapi, bagaimana dengan mereka
Muncul sebatas kepala nyaris pangkal hidung bersemayam insang
Bukan tak bersyukur atas segala nikmatNya hanya saja tolong jangan melimpah meruah sampai sejauh ini
Siang dan malam hingga berjumpa hari di kemudian tak pernah putus doa berkumandang
Jalan yang tertapaki kini terendam bersama harapan agar lekas pulih

Jeritan sakit beriringan dalam tempo buatan tuk menggiring keamanan
Puluhan jiwa berseragam jingga membantu sesama
Masih tetap di bawah lebatnya guyuran yang enggan menepi

Sukma bukan lagi dingin melainkan hancur hingga tak berpuing
Siraman yang terus tiada henti membekukan waktu mengapa harus terjadi

Tiap tetes tiap butir tiap kerincingannya yang apik saat dulu kecil
Dan besar, harus kuakui menjadi musuh
Vas yang selalu kuisi guna merendam tangkaiku dengan lengan menjulur ke luar jendela
Rintik kecil serta tempias kebanggaan yang acap kali menimbulkan teguran wanita tuaku
Dulu, dan masanya telah berganti sebab kini pepatah kecil kawan ketika besar menjadi lawan itu nyata






Medan, 10 Oktober 2019

Rabu, 09 Oktober 2019

Simpan Rasa

Furi


Bimbang yang tak wajar selalu mengelabui diri
Saat petang dan fajar, meski terasa mencekik di pangkal lidah namun selalu tak bisa berucap

Pada keheningan nuansa jingga kemerahan Selasa waktu itu
Nyaris diri memekik kala ragamu melintas di hadapan
Pengangum rahasia kata mereka, tapi skalaku lebih dari ungkapan orang
Sementara jiwa merintih pilu tak kuasa menahan sedang ego enggan tuk mengalah

Debaran kian mendera garang tiap waktunya
Takut akan penolakan serta malu sebab kodrat bukan lintasanku
Tahu diri, pembatas yang kuciptakan karena memang tabiat kaumku

Panah asmara tak lagi ampuh guna menggambarkan suka terhadapnya
Debuman tak kasat mata serta limpahan cinta semakin kuat
Keinginan dalam suatu ikatan sakral terlalu berlebihan, nyatanya impian sekedar impian

Simpan rasa,
Menyisipkan tiap bait nama dan lagumu dalam doa
Kau pejalan sempurna di tengah licinnya jalanan lengang sehabis hujan
Reda yang membawa rindu lagi menghidupkan sengatan paksa
Terus berdiam tanpa kata, terus mengingkar hingga jengah

Penanti wawasan raktan sampai memuntahkan buih
Sejauh langkah tercipta menyampaikan tak kunjung tiba
Maka, berlakon semestinya demi mendalami peran kehidupan sebuah rasa yang nyata







Medan, 9 Oktober 2019

Selasa, 08 Oktober 2019

Paris

Oleh : Furi


Kereta bawah tanah di stasiun lawas Eropa
Bergulir sama halnya dengan diri ini penuh tujuan
Meski ragu kadang menyambangi serta dentuman gerbong terakhir
Di padatnya hiruk pikuk bermacam kepala

Mengabur,
Sebab air langit mengguyur Kota Mode tersebut
Barisan pejalan kaki turut andil memenuhi obsidian walau belum reda
Dan senja yang tampak sangat kuning selaras pada hati

Melirik arloji tak sampai nadi berdenyut mendayu dengan jelas
Pasal hal indah terpatri rapi mengelola sanubari
Menjemput bintang di negara orang

Derap tiap derap, detak perdetik
Gambaran masa depan berpeta apik meyakini tegar
Sementara gundah tak kunjung habis dan takut bermanuver berjuang mencari jalan keluar
Percikan tempias depan rel coklat menggerogoti pilu, menahan sesak ingin berteriak jengah

Eiffel,
Simbol Negeri belahan bumi yang pernah kupijak
Permadaniku bermotif cetak di tengah berkelasnya keluaran berbagaimacam gaya
Seracik syair pada bait-bait magenta pekat
Melicik subtil kian mendera guna mendapat tahta dan harta






Medan, 8 Oktober 2019

Senin, 07 Oktober 2019

Bingkai Trapesium

Furi


Kaca bening pembatas ruang semu setengah meter
Berlapis kanvas cokelat, daun majemuk mengelilingi
Di tengah keindahan semi permanen
Kau siram secangkir rendaman gula merah Jawa
Dan, karamel lama hampir rusak

Letak kita yang tak pasti
Pun pendapat selalu berlawanan arah
Salah miring atau pasal sudut yang terlalu banyak

Ego tetap tak meredah sedang hati resah berpuing
Volumenya masih sesingkat dulu
Kalau saja indah pasti memanjakan mata
Menikmati kagum akan dirimu yang terukir syahdu

Fabel,
Tak butuh rumus logaritma jika nyatanya ilmu tetap
Tak selamanya satu tambah satu sama dengan dua
Tak mungkin juga deret bilangan prima tak selalu ganjil

Kesungguhan hati dalam masa uji coba
Menyematkan langkah menggunakan bangun dasar
Sebab, sejatinya perjalanan hidup berpola perhitungan
Kau terapkan tetap kuemban sanggup, kau terlelap sangar kulompat pada kubus kaki lima





Siantar, 7 Oktober 2019

Sabtu, 05 Oktober 2019

Senandika Jilid IV


Dalam Perjalanan
Furi

Hampir tengah malam, menembus dinginnya tiupan angin beserta pendingin ruangan kuda besi Ayah. Lalu-lalang kendaraan seakan tontonan wajib untuk malam akhir pekan kali ini.

Kala lelah menyambangi turut menuntun pulas sampai terjaga yang kesekian kalinya, tetap sorot lampu jalan dan roda empat lainnya.

Kilometer tak sanggup kuperhitungkan, berkalung selimut pastel jua menaikkan suhu buatan. Hati berkecamuk entah berantah, berharap semoga esok terbangun masih dalam suasana seperti biasa.

Aspal hitam bergaris putih memaku penglihatan barang sejenak. Seperti; jangan melewati garis pinggir. Barisan dedaunan bagai penghantar guna mengiringi.

Jalanan yang berkelok, menanjak, hingga berputar arah. Layaknya gambaran jiwaku saat itu, bersama alunan musik era masa terbaru. Dalam diam, mewanti segera sampai dan menang hingga sejahtera.




Medan, 5 Oktober 2019

Jumat, 04 Oktober 2019

Senandika Jilid III


47,9cm
Oleh : Furi


          Lubang di depan sana yang mempertemukan kita, bukan roman picisan agar sengaja mendapat perhatian. Kebenarannya, aku malu sampai ingin membungkus muka dengan lelehan lilin.

          Kerikil kurang ajar itu membuatku jadi bodoh sesaat. Kutendang pun percuma, sementara untuk menyangga tubuh sendiri tak bisa. Kekehan kecil di sudut bibirnya menambah kemerahan pualamku.

          Beruntung kepala tertutup tembikar lebar, menyembunyikan fakta yang sudah terlihat jelas. Derap langkah yang kian menyita genderang telingaku membawa cemas semakin besar. Pada saat-saat seperti ini, tolong jangan mendekat.

          Namun, snekeers putih menyapa obsidian kala kualihkan pandangan ke depan. Semburat merah jambu menjadi semakin merekah, seperti kepiting rebus. Hendak berdiri, cekalan lengannya lebih dulu memapahku.

          Tiada suara yang berkepentingan unjuk rasa. Hanya deru nafas satu-sama lain yang saling bersahutan.

          Sampai pada baja hijau lumut di sekitar taman. Duduk tenang masih enggan mengungkap kata. Kulirik, tawa ringan kembali mengembang padanya. Sedang aku, mengernyit tak suka.

          Dilepasnya benda bulat yang melingkar di kepalaku, jarak yang sungguh membuat pacu jantung berdetak tidak normal. Kali ini senyum menenangkan yang kudapat. Sepanjang penggaris tidak lebih 50cm.

          Ingin marah tapi, lengkungan simetrisnya berhasil mempengaruhiku. Alih-alih marah, di sana kutangkap jelas paras dan tawanya dalam Centi yang tak terlalu dekat ataupun jauh. Sampai dimana hanya tawa sumbang kitalah yang menuntun suasana.






Medan, 4 Oktober 2019

Rabu, 02 Oktober 2019

Pada Lensa Cekung

Furi


Dua buah sisi sama besar
Volume datar bukan manfaat utama agar kau berguna bagi kami

Membantu terang artian jelas jangka panjang walau tak bisa selamanya
Setidaknya, mengerjap miris mengumpulkan cahaya benderang tepat menuju kornea

Sudah banyak para sahabat yang enggan melepas karena selalu mengutamakanmu, ketergantungan

Sembari bekerja dengan segalamacamnya
Sedih kala diri sadar pun keutamaan tersebut melekat padaku
Jauh mengecil serta dekat mengembang asal
Aturan mengikis bukanlah kesepakatan benak

Mencela pribadi lemah sedang menggenang dalam keadaan yang sama
Dari sini, terlihat jutaan kelabus butuh tuntunan
Menempel dalam bingkai yang selama apapun akan tetap kekal jika tak terkontaminasi zat

Mikroba,
Seperti penelitian ahli meliput parasit-parasit yang berbalut snelli melihat cekungannya
Gunanya banyak dan bukan tercipta tanpa putaran tak terselubung
Sebab, tiap penggalan hanya untuk merayuNya





Medan, 2 Oktober 2019

Selasa, 01 Oktober 2019

Satu Oktober

Furi




Ada kisah yang harus usai di jajaran akhir tahun kali ini
Secarik memori lampau dalam kepahitan

Wira-wiri berkedok kewajiban padahal tindihan
Menuding tak berbatas belas kasih, cemooh
Merunduk semakin terinjak sedang kawanan setan beriringan
Ada dosa besarkah masa itu

Simpul,
Sumringah nian maksud keakraban palsu
Menepi sampai pagi, makan sampai muntah

Meski begitu, pura-pura tidak tahu saja
Melintas terasa mencekik, sakit sekali
Berdoa sepanjang jarum jam berotasi lambat

Cemburu tak jelas atau lihai menipu pun berperan ganda, sama jua
Kerlingan nakal guna menyusup sarkas
Kala kata-kata yang tak lagi mampu menjabarkan
Dan keterdiaman memandang gawai, sembari memohon kesadarannya di sana

Objek ketertarikan semata bersama segenggam ide agar selesai
Namun, selalu berakhir waktu tuk menjawab





Medan, 1 Oktober 2019

Senin, 30 September 2019

Lukisan Bernyawa

Oleh : Furi


Potret sempurna di ujung timur membuatku tersenyum tiap waktu
Hendak menutup mata ataupun sebaliknya, kusimpulkan geraman tertahan meski sulit

Kendati memanggilmu guna melepas rindu
Namun, semua sirna akan goresan antik bertema hitam putih di sana
Runcing salah satu tegak lurus itu terasa sangat pas, indah kupandang

Baret cokelat bahan yang begitu estetik bertengger di atas surai legammu
Hidung bangir serta-merta meluluhlantahkan takut dalam jiwa

Sosok menawanmu yang tak ragu kukagumi
Tutur kata sopan jua kelakar yang melekat
Kadang kala, semburat merah kau hadirkan di pualammu
Simetris kecil terbirit membentuk lengkungan nan mewah
Buah jakar terbit tenggelam seperti menyentak sesuatu

Barisan buku kukumu yang berketuk seirama lembayung di peraduan
Kerjapan singkat yang tak ayal menimbulkan keterkejutanku
Sesekali, mahkota pekatmu yang membungkam segala keresahan hati

Menyingkirlah sesaat pada kehebohan yang melunjak
Membaringkan raga sampai terlelap, lepas landas hingga terbit Fajar
Sapaan lembut menyapa runguku dalam balutan ultraviolet yang menyusup lewat tirai
Pada saat itu, jantungku berhenti berdetak






Medan, 30 September 2019

Sabtu, 28 September 2019

Diksi Puisi


Furi

Sederhana,
Tatanan kata kecil sarat akan makna yang mengandung segudang keterkejutan
Terkuak perlahan sedemikian rupa, pun eksistensi melambung tinggi
Kesulitan ajun dewana disaban hari nyatanya meroketkan hal baru

Cenderung gusar bergelung runyam
Namun, patut diapresiasi sebab recaka saja berarti

Dus-dus, gerbong dan angkutan umum diterpa kemacetan panjang
Sembari menyelam minum air katanya, hebat
Ada beberapa wejangan tak pernah tak terarah barang setitik

Warisan Sastra dari para leluhur yang gata
Bukan sukar yang kelewat batas, pengetahuan anggara guna penggendalian diri
Teleportasi dari masa ke masa
Jenuh tak terelakan meski sudah fasih dan handal, lagi-lagi kepongahan yang menjulang tinggi

Gayita sampai rudira, 
Bermetamorfosis lambat laun seiring bergulirnya waktu
Ilmu berdekade jarak panjang jua rasa kasih berbahasa yang kian meletup tanpa batas
Seolah bermusyawarah pada jiwa-jiwa kelabus
Keheningan terbungkus semangat 
Menilik barisan huruf hingga sepakat tak melupa pada fakta, diksi indah






Medan, 28 September 2019

Jumat, 27 September 2019

Makan Malam

Furi

Tema malam itu hitam
Dua buah gelas berbeda volume, tak tersentuh
Lekukan jemari memangku wajah lelah
Angkuh parasmu yang memikatku

Lagi-lagi tergantung waktu, putaran jarum merah yang lambat
Tiga pilar di sekelilingmu
Empat rangkai anyaman surai legamku, bertambang

Tiga jenis bunga dalam satu rangkaian, darimu
Lilin temaram tak kunjung habis
Selera menu kita yang berbeda
Pun melodi aneh kau sematkan
Dentingan jauh meski amat dekat, gaun putih berlengan manik merah

Senyap,
Cangkir kopi di hadapanku pecah berserakan
Pasangan bernyawa

Aku suka semua permainan peranmu
Walau terasa gila dan menyusahkan, kita berdamai dengan ego
Mengungkap rasa tanpa tawa, ketulusanmu membuatku terkesiap sarkas
Kau utarakan di tengah romansa malam ini



Medan, 27 September 2019

Kamis, 26 September 2019

11:11

Oleh : Furi

Semua bermula dari waktu makan siang kurang empat puluh sembilan menit, padatnya gerai seakan tak memberi peluang
Menoleh bingung menemukan pelangi di luasnya Samudra
Kala itu pandanganku mengabur sebab kabut menyelimuti tanpa celah

Perahu kertas oleng terhantam ombak yang pasang tiba-tiba

Dari kejauhan sosoknya seperti kapas
Terkejut dalam khidmat, yang semula siap mengejar brutal
Namun, tersandung karang sampai karam

Kurang dari empat puluh sembilan menit sebelum tepat mendarat ke pusat
Pesiar yang tak kunjung rampung
Kutemukan labuhan lainnya sembari meringis sesak
Tungkaiku seperti menginjak samurai di atas lantai es
Tertawa sumbang atau menangis kesakitan, nyatanya kutersenyum puas

Nampan lezat pun tergeletak sia-sia, undur diri
Kemudian menenteng aluminium yang tercecer

Di dinginnya bentangan Samudra tersebut, langsung turun hujan
Yang semula suasa desa tengah mengalami musim semi
Mengandai terlalu banyak pada realita bar-bar, mengatasnamakan gejolak membara

Waktu bergerak terlalu cepat sampai secuil kisah tinggal kenangan
Memori lampau yang menggantung
Hingga pertemuan kembali di bandar udara
Masih kurang dari empat puluh sembilan menit, sebelum menerbangkan ragaku ke belahan bumi lainnya





Medan, 26 September 2019

Rabu, 25 September 2019

Abstrak

Oleh: Furi

Tempias yang menimpa kepala sore itu
Padahal laguku sedang baik
Neraca pasir belum berhenti mengalir
Serta gunda yang merayap bebas

Hati keras, pun rasa membeku
Tersenyum simpul guna menyapa
Sedih yang bagaimana sebenarnya
Tutup diary hitam kuganti abu-abu

Ampunilah, aku juga sedang bingung
Pada dasarnya tentang apa
Bagaimana maksudnya saja tidak jelas
Tiap bait ini tak menerangkan apapun

Ambigu,
Kontemporerkah
Atau harus jadi senandika saja
Lalu jika kusebut prosa liris bisakah

Pahami saja intinya
Cerna tiap kataku di dalam sini
Jiwa raga sedang lelah
Tak sanggup bergelung dengan syair yang apik




Medan, 25 September 2019

Selasa, 24 September 2019

Senandika; jilid II

Kiran
Oleh: Furi


          Gadis introver yang sering kutemui setiap pulang sekolah di halaman belakang. Senyumnya mengembang ketika mendapatiku membawa donat cokelat kesukaannya. Tanpa kata, ia kecup kecil pipiku sembari menyambar kantong kresek putih.

          "Terima kasih Andin, aku menyayangimu." Dara enam tahun itu teramat senang. Tak menggubris diriku yang tertawa melihat tingkahnya. Sepatu kets putih gading dengan gaun selaras serta surai panjang yang sengaja ia gerai, cantik.

          Terkadang, aku heran dibuatnya. Ia sosok yang ceria tapi, disaat yang bersamaan akan menjadi diam tanpa sebab. Alurnya sangat tak tertebak, seperti saat ini. Donatku habis dalam sekejap dan yang dilakukannya hanya menatapku lekat.

          Ketika aku bertanya kenapa, "Kau cantik," ujarnya. Tidak suka keramaian dan anti pada kaum adam. Tidak ada teman dalam kamusnya, hanya ada aku. Itupun ia anggap kakak, gadis kecil berkulit tan itu ramah sekali terhadapku namun, tidak pada yang lainnya. Ia benci semua orang yang suka memanggil namanya.

          Pria tua ber-snelli putih di ujung sana, mengisyaratkan waktunya telah tiba. Kugandeng perlahan lengan kecilnya. Dalam sekejap pula ia hentak sekuat tenaga. Berlari ke belakangku dan memelukku erat sekali.

          "Kau pasti bisa." Dan ia membeo sekenanya. Tubuhnya tak lagi menegang takut seperti sedia kala tapi, justru matanya yang berbicara. Kuseka lembut dan membawanya dalam gendonganku.

          Seperangkat alat bius dan kawan-kawan adalah hal yang sangat mengerikan baginya. Usianya masih teramat muda tapi, bebannya sejauh yang tak pernah kubayangkan. Ia sebatang kara, aku dan Dokter Richard-lah walinya.




Medan, 11 April 2016 (in memoriam; revisi 2019)

Senin, 23 September 2019

Lajnah celengan ayam

Oleh: Furi

Sembari menghitung logam yang tercecer
Kukeluarkan sebuah lembaran lusuh dari saku
Pinsil usang tak sampai satu jari kelingking
Dan tekad bulat ketika bunyi kerincing hampir tak menyapa rungu

Kuselipkan tersembunyi di belakang nakas
Temaram pijar seakan memihakku
Usapan penuh harap selalu kulantunkan
Pun doa yang tak ada habisnya

Celah sedikit bahkan cerah kupandang
Meski bena menggulung kejam
Candramawa gerabah itu yang kuprioritaskan
Hari-hariku seperti hanya berkutat tentangnya

Kunjungan wisata akhir masa pendidikan kala itu
Ragu menyambangi tiap derapku
Bagaimana paruh merah berjambul disana menginterupsi
Weker yang berdetak terdengar dramatis

Tiba,
Meski sedih mampu meyakinkan
Upaya masa kecil hingga hidungku berbingkai kacamata
Mengembangkan senyum sarat akan tawa
Keberhasilan dulu yang tergantikan kartu elektronik masa kini


Medan, 23 September 2019

Minggu, 22 September 2019

Senandika; jilid I



Bukan alter ego
Furi

          Hirik pikuk kota Metropolitan ini membuatku sebal, pada kesendirian di tengah keramaian yang nyata. Mereka berlalu lalang pada kekehan simetris yang membuat diri ini iri. Sedang, tanpa tahu sebab semestinya aku juga bahagia. Dia ikut bersamaku dan ada di sampingku, kita menghabiskan banyak waktu berdua.

          Konflik batin, selalu tentang itu. Marah, kecewa namun tak pernah jujur untuk bersuara. Terlalu enggan mengungkit hal yang dapat menyakiti satu sama lain. Tapi, tidakkah kejujuran dan saling terbuka itu perlu?

          Disini, lakonku terlalu bertele-tele. Kesal pada dirinya yang tak kunjung meminta maaf. Picisan sekali, aku sadar dia tak bersalah namun, itulah ego seorang wanita yang ingin selalu benar. Singgungan kecil dapat berakibat fatal. Padahal bukan dia yang memulai tapi aku.

          Semanis apapun kisah tertulis ini, akan lebih berwarna jika saling mengerti. Tapi, lagi-lagi ia bungkam dengan sejuta kerinduan yang mendesakku untuk merengkuhnya. Dan lagi-lagi juga egoku masih betah bertahan. Titik "hitam" ini bermula karena kesepelean belaka. Ya, bukan hal penting pun tidak klise sebagaimana halnya dua hati yang saling uring-uringan. Sebab, kita terkurung dengan pemikiran primitif lainnya.

          Senja yang menyaksikan, kuhentak kasar jemari yang tengah bertautan tenang. Pergi tanpa menoleh, saat-saat seperti ini yang kubutuhkan hanya pulang. Bersembunyi di labuhan kapuk sembari menuntaskan keinginanku tuk menghilangkan sesak di rongga dada. Setidaknya genangan liquid di pualamku dapat membantu, setelah lelah, tidur dan semua akan baik-baik saja ketika aku bangun. Harapanku begitu.



Medan, 16 September 2017 (revisi 22 September 2019)

Sabtu, 21 September 2019

Renjana bocah tua



Renjana Bocah Tua
Furi

Genta menggema keseluruh ruang kelas
Satu-persatu berhamburan mencari kesenangan
Hendak berlari mengikuti teman
Namun tertahan karena riak air mulai menyapa bumi

Petang yang nyalang melintang
Menoleh riang, sebab pelangi dalam genggaman
Tawanya menguar betapa puas oleh kesederhanaan
Langkah penuh ruam pun ringisan bersama kerjapan mata

Menyaksikan tiap tetes di depannya
Terbirit lebar singgungan manis itu
Meski tak senormal remaja pada umumnya
Ketika dingin dirasa menusuk kulitnya
Cakupan luas jemari langsing disana tampak menggenang

Ia tertawa nyaris menjerit bangga
Hendak melompat berakhir tersungkur, basah
Netranya berbinar cerah tanpa beban
Kuyup bukan masalah
Uluran tangan lain ia tepis marah
Menikmati kuasaNya yang serta-merta menghilangkan dahaga

Swastamita menyaksikannya bergelung ria
Tamparan udara yang membelai random paras jua kalbu
Keistimewaan tiap indivu bukanlah petaka
Menerima adalah anugerah terindah


Medan, 21 September 2019

Rabu, 18 September 2019

Sepakat



Sepakat
Furi

Malam dingin dalam kepulan magenta pekat
Di ujung sana bayang hitam menghampiri perlahan
Rongsok mengoyak sanubari bak pendekar sakti
Memuncak, tumpah ruah menenggelamkan diri

Segelintir nyeri menusuk rusuk
Kau yang kian jauh atau aku yang merenggang
Kau picik dengan caramu atau aku yang terlalu egois
Atau kita bergerak terlalu lambat

Saliva mencekik guratan sangar tampang lembut
Kegaduhan yang tak kunjung usai
Sebab hati masih tetap bertahan
Kelakarmu demikian, pun aku yang terdiam

Tak ada lisan,
Seperti biasa kita bersua
Hubungan ini yang tak ternilai antara dua kepala
Semburat syahdu selalu mengecoh

Kau, pemakai mahkota Rajamu sendiri
Sedang aku penikmat erat realita klasik
Kau kobaran api sedang aku suka meredahkan
Merenggut kilatmu sampai telak tak bersisa
Kita kontras sebagaimana jalan ceritapun usai


Medan, 8 Juli 2019 (revisi 18 September 2019)

Selasa, 17 September 2019

Peniru Ulung


Peniru Ulung
Furi

Satu sampai dua masih berlalu
Jingga dan abu-abu tak terlalu kulirik
Mengatasnamakan pemikiran bebas
Atau mereka yang haus akan kama

Padikaku adalah goresan tanpa matrik
Diri ini wekel bukan memanfaatkan
Sebab, yang namanya tiruan akan tetap terlihat
Bahkan menyelam sekalipun

Hasil pemberontakan ide semalam suntuk
Kukerahkan bersama tarian pena dan lembaran kertas
Namun, pecundang tak tahu malu merenggutnya
Dalam sekejap merubah dasarnya

Modifikasi,
Sejatinya aku kenal dengan dataranmu
Kata serta kalimatku yang kau leburkan
Jangan bodoh menjadi generasi muda
Temukan lumbungmu sendiri
Kemudian isi dengan pari hasil kerjamu

Manusia sempurna berbekal akal pikiran
Jua tidak menetap dalam labirin
Kancil saja cerdik pun budinya
Ingat, pencipta robot itu sebangsamu

Medan, 17 September 2019

Minggu, 15 September 2019

Untuk Bunda


Untuk Bunda
Furi

Hangat,
Sapuan kulit mewahmu yang bercahaya
Lembut tiap baris kalimat nan bermanfaat
Cinta pertama dan selamanya untukku

Bidadari surga titipan-Nya
Malaikat nyata dalam wujud manusia
Kau tak sebatas orang tua bagiku
Jasamu bahkan melebihi buih pantai
Sujud syukur selalu kulakukan kala ingat memilikimu

Aku,
Kekasih abadi darah dagingmu
Hidup ini lengkap karenamu
Betapa aku bangga akan pahlawan bersayap emas

Sampai diri ini rimpuh sekali pun
Sosokmu tak kan tergantikan
Sebab dikau adalah bidukku
Lampion megah dalam belantara
Tingkahku adalah katamu, kataku jua turut perhatianmu

Bagaimana kau selalu menganggapku layaknya dandelion
Mata yang turut berair melihat kesedihanku
Pun tawa tak redup kala bahagiaku
Menggiring elok tiap langkah yang kuambil
Tak luput dari kisah klasik penuh warna

Bunda,
Ibuku terhebat melebihi apapun
Panutan hidup serta jembatan kokohku
Teruslah sehat dan bahagia demi raga lemah ini
Jangan bosan menuntunku
Sampai kafan menyelimuti mayitku
Kan kusuarakan lantang aku mencintaimu

Terima kasih tak sebanding dengan usahamu
Tak cukup untuk mengutarakan segalanya
Kau duniaku, pengisi kekosongan jiwa
Maaf atas perilakuku
Kasihku terhadapmu sampai bila-bila

Singapura, 15 September 2019

Sabtu, 14 September 2019

Negeri Anak Bangsa


Negeri Anak Bangsa
Furi

Adiwiyata Jumat pagi ini
Kumulai dengan sesak kemacetan lalu lintas
Berbondong langkah menuju tiap hak dan kewajiban
Meski sering kali kurasa penat

Asap kendaraan dan puing sampah berserakan
Ngeri mata memandang
Pun tumpukan plastik yang sulit terurai
Genangan air keruh disana-sini

Basah,
Disaat lenganku menyentuh baja lama
Lelehan minyak hitam dari kendaraan rongsokan
Betapa inikah layak disebut pemukiman penduduk

Udara bahkan enggan menetap
Sebab hanya kekumuhan yang ada
Nyaris batinku menjerit sarkas
Apa gunaku di muka bumi ini

Di depan sana,
Generasi sepertiku asik menyelami obrolan santai mereka
Tampak acuh dengan lingkungan sekitar
Padahal beberapa raga senja sibuk memungut dengan karung usang
Egois sekali jiwa-jiwa muda seperti itu

Singapura, 14 September 2019

Jumat, 13 September 2019

Ketika Kehilangan









Ketika Kehilangan
Furi

Aku ingin marah,
Ntah pada siapa yang tak jelas
Kepulanganmu menyakitkan
Bukan aku benci pada-NYA

Sesak,
Seakan seribu jarum menghantam dadaku
Tak lagi kulihat tawa renyahmu
Beginikah sakitnya

Lembayung sudah berlabuh di tempatnya
Detik waktu berjalan sangat lambat
Meninggalkan goresan luka yang amat perih
Tinggal kenangan saja

Aroma tubuhmu yang terbayang
Lembut tuturmu ketika menasihati
Pun sapuan singkat di suraiku
Kekesalan yang tak pernah kau perlihatkan

Tuhan menyayangimu
Berbagi cinta selama masa hidup singkat ini
Terpekur dalam kubangan kecil
Menyertai doa setiap saat untukmu

Rentan,
Penggambaran akan sosokmu yang nyata
Tenanglah dalam keabadian sesungguhnya
Sekali lagi aku menyayangimu

Singapura, 13 September 2019

Kamis, 12 September 2019

Rat dan Kampanya


Rat dan Kampanya
Furi

Hari, baru dimulai
Bau tanah basah sehabis hujan
Menghantarkan kelegaan yang membuncah
Atmaku tenang seperti diri ini rimpuh

Sarayu kala terang dan petang
Berayun lambat menembus masa kecil
Menapak senang dengan kaki telanjang
Lumpur, hujan, dan segala percikan kebebasan itu

Gelombang pasang,
Menularkan sebongkah senyum
Berlarian bahkan di tengah hutan beton
Padma tunggal yang begitu dahayu dipandang

Bumiku ini amat alap untuk dirusak
Nestapa luruh ketika bencana alam bertamu
Meleburkan pahang yang acak kali kupuja
Tak bisakah keindahan ini baka

Galaksi tiap malam menemani kesunyianku
Bercengkrama ironis tanpa ajun
Tekadku bulat mengasihi paru-paru dunia
Mengawasi tangan-tangan nakal yang usil
Tempat berjuta jiwa bercokol serta

Singapura, 12 September 2019

Selasa, 10 September 2019

Puisi today


Indurasmi Malam ini
Furi

Jamanika berkerincing menggelitik harsa
Bersama senja, di bawah hujan
Rucita lintang menuntunku pada jam tenang
Akan paras jua rasa yang semakin lekat

Sarayu lagi-lagi menjerumus akan dirimu
Tawa dan kernyitan aneh yang berpola
Pilon, aku termenung memutar kisah kala itu
Pesona gila dalam dirimu

Ketika langit menangis kita tertawa
Berbagi cerita dengan maksud membaur
Bagaimana caramu mengekspresikan diri
Aku suka, semua yang melekat padamu

Benawat,
Bahkan sebelum kita mulai dekat
Anindya, begitu mudahnya mengubah pendapat
Alih-alih marah namun suka

Rinduku melalang buana tertiup angin
Pair jantungku setiap mengingatmu
Semua terasa singkat sebab kalis
Bersama shyam kembali mengenangmu

Medan, 10 September 2019





Selamat membaca...