Oleh : Furi
Potret sempurna di ujung timur membuatku tersenyum tiap waktu
Hendak menutup mata ataupun sebaliknya, kusimpulkan geraman tertahan meski sulit
Kendati memanggilmu guna melepas rindu
Namun, semua sirna akan goresan antik bertema hitam putih di sana
Runcing salah satu tegak lurus itu terasa sangat pas, indah kupandang
Baret cokelat bahan yang begitu estetik bertengger di atas surai legammu
Hidung bangir serta-merta meluluhlantahkan takut dalam jiwa
Sosok menawanmu yang tak ragu kukagumi
Tutur kata sopan jua kelakar yang melekat
Kadang kala, semburat merah kau hadirkan di pualammu
Simetris kecil terbirit membentuk lengkungan nan mewah
Buah jakar terbit tenggelam seperti menyentak sesuatu
Barisan buku kukumu yang berketuk seirama lembayung di peraduan
Kerjapan singkat yang tak ayal menimbulkan keterkejutanku
Sesekali, mahkota pekatmu yang membungkam segala keresahan hati
Menyingkirlah sesaat pada kehebohan yang melunjak
Membaringkan raga sampai terlelap, lepas landas hingga terbit Fajar
Sapaan lembut menyapa runguku dalam balutan ultraviolet yang menyusup lewat tirai
Pada saat itu, jantungku berhenti berdetak
Medan, 30 September 2019
Potret sempurna di ujung timur membuatku tersenyum tiap waktu
Hendak menutup mata ataupun sebaliknya, kusimpulkan geraman tertahan meski sulit
Kendati memanggilmu guna melepas rindu
Namun, semua sirna akan goresan antik bertema hitam putih di sana
Runcing salah satu tegak lurus itu terasa sangat pas, indah kupandang
Baret cokelat bahan yang begitu estetik bertengger di atas surai legammu
Hidung bangir serta-merta meluluhlantahkan takut dalam jiwa
Sosok menawanmu yang tak ragu kukagumi
Tutur kata sopan jua kelakar yang melekat
Kadang kala, semburat merah kau hadirkan di pualammu
Simetris kecil terbirit membentuk lengkungan nan mewah
Buah jakar terbit tenggelam seperti menyentak sesuatu
Barisan buku kukumu yang berketuk seirama lembayung di peraduan
Kerjapan singkat yang tak ayal menimbulkan keterkejutanku
Sesekali, mahkota pekatmu yang membungkam segala keresahan hati
Menyingkirlah sesaat pada kehebohan yang melunjak
Membaringkan raga sampai terlelap, lepas landas hingga terbit Fajar
Sapaan lembut menyapa runguku dalam balutan ultraviolet yang menyusup lewat tirai
Pada saat itu, jantungku berhenti berdetak
Medan, 30 September 2019
Tidak ada komentar:
Posting Komentar