Selasa, 24 September 2019

Senandika; jilid II

Kiran
Oleh: Furi


          Gadis introver yang sering kutemui setiap pulang sekolah di halaman belakang. Senyumnya mengembang ketika mendapatiku membawa donat cokelat kesukaannya. Tanpa kata, ia kecup kecil pipiku sembari menyambar kantong kresek putih.

          "Terima kasih Andin, aku menyayangimu." Dara enam tahun itu teramat senang. Tak menggubris diriku yang tertawa melihat tingkahnya. Sepatu kets putih gading dengan gaun selaras serta surai panjang yang sengaja ia gerai, cantik.

          Terkadang, aku heran dibuatnya. Ia sosok yang ceria tapi, disaat yang bersamaan akan menjadi diam tanpa sebab. Alurnya sangat tak tertebak, seperti saat ini. Donatku habis dalam sekejap dan yang dilakukannya hanya menatapku lekat.

          Ketika aku bertanya kenapa, "Kau cantik," ujarnya. Tidak suka keramaian dan anti pada kaum adam. Tidak ada teman dalam kamusnya, hanya ada aku. Itupun ia anggap kakak, gadis kecil berkulit tan itu ramah sekali terhadapku namun, tidak pada yang lainnya. Ia benci semua orang yang suka memanggil namanya.

          Pria tua ber-snelli putih di ujung sana, mengisyaratkan waktunya telah tiba. Kugandeng perlahan lengan kecilnya. Dalam sekejap pula ia hentak sekuat tenaga. Berlari ke belakangku dan memelukku erat sekali.

          "Kau pasti bisa." Dan ia membeo sekenanya. Tubuhnya tak lagi menegang takut seperti sedia kala tapi, justru matanya yang berbicara. Kuseka lembut dan membawanya dalam gendonganku.

          Seperangkat alat bius dan kawan-kawan adalah hal yang sangat mengerikan baginya. Usianya masih teramat muda tapi, bebannya sejauh yang tak pernah kubayangkan. Ia sebatang kara, aku dan Dokter Richard-lah walinya.




Medan, 11 April 2016 (in memoriam; revisi 2019)

1 komentar: