Senin, 21 Oktober 2019

Pada Sang Malam

Furi

Jeritan sarkasme mengawali pergerakan lambat petang itu
Sebaris anila menyusup relung menyerbu ketenangan
Jiwa-jiwa perebut kebahagiaan kulontarkan di sisi yang menyakinkan
Pemberontakan sehari semalam kian pupus tak bertuan

Ada masanya yang enggan bersuara akan menghantam besar
Keruhnya air yang mengaliri persawahan seakan mengganggu bagaimana fungsi zat sesungguhnya tuk berjalan

Kerlingan nakal berpadu-padan mencuri kesengitan belaka
Yang dapat mengendap mengibuli sesama
Guratan kesedihan, meski mahir tersembunyikan
Sekali dayungan hanya beberapa yang dapat membaca

Ketika Fajar bertamu di belahan bumi lain di sana kulimpahkan rasa tuk mengguyur sedang
Atau sekedar bersyair seirama alam
Persekian detik disaat adanya kerincing bell jingga menggema
Bersyukur tiada henti, meminta dan berusaha masih tanpa lelah

Dari hak,
Jangankan muara ke suara saja berbelit menghunus jantung berakibat lebam
Petikan senar gitar yang dewasa adalah sedikit peneman muram tiap malam



Medan, 20 Oktober 2019

Jumat, 18 Oktober 2019

Jenuh

Furi

Semula perpindahan pijak sudah tak nyaman bagiku
Berbagai macam kemungkinan-kemungkinan seakan menghantui
Celotehan yang bukan apa-apa mendasari sejauh mana kealibian mereka

Pertikaian yang selalu pada topik itu lagi-itu lagi
Himpunan dan jajaran kreatifitas semprotan kecil makna milikmu
Sebab, sebagian besar utuh cibiran

Menarik pengetahuan dari cendramata buah simalakama yang tanpa engah
Meliputi kabar rawan tengah lempar simpan
Bercokol sarkas tapi tetap meminta bahkan membutuhkanku
Keadan siapa yang menjadi benalu di saat seperti ini bukan lagi pertimbangan lima jari

Titipan pesan sarat bukan saran beserta jangkauan medan perang
Bibir terlampau manis semata-mata bingkisan belaka

Jauh di dalam lubuk hati ingin bersuara lantang serta lugas
Meluruskan serpihan ranting yang bengkok sana-sini akibat terpaan angin lebat
Sayang, pagi itu cuaca ikut tak suka mega terang hingga hampir badai
Satu yang kuyakini tanpa ingin memberi gambaran pun kekuatan, sampai bisa mempersembahkan suguhan kemenangan




Medan, 18 Oktober 2019

Kamis, 17 Oktober 2019

Pembicara Mutlak

Furi

Ada walau tak semua pribadi yang kukenal menanam sifat demikian
Terus berputar membanggakan mengumumkan bahwa dirinya selalu hebat, terlampau yakin

Mandevilla lepas serabut berjiwa sayu
Akarnya tertimbun di dalam sana namun, cengkramannya bukan main melilit lebat
Podium di atas teratai berujar singgasana dari emas, sedang kaos oblong gombor berdalih lencana logam mulia

Sederet nyaris tak terhitung jari,
Pada torehan pun jangkauan biasa berdedikasi tetap sama
Menarik sekilas awal peradaban, masa tak tahu menahu kian melejit sesukanya

Cawan retak itu yang selalu berkibar sumringah sembari mengintip jari
Nampan kaleng jadul tertumpu sampul berdempul kelabus
Sepintas pola dengan isinya tidak jauh berbeda
Pabo kekinian semakin gencar angkat dagu

Kebolehan yang cukup berbekal kasih sayang atau goresan buatan objek pikir
Kali kedua bersahutan dengan spesies tersebut
Mereka dan mungkin prinsip kejeniusan kalah saing dengannya, mendendangkan puitis senampa perbait
Jangankan sama atau tinggi, pada dasarnya mereka yang amat sangat mendalami peran kekanakan






Medan, 17 Oktober 2019

Rabu, 16 Oktober 2019

Tawa Luka

Oleh : Furi


Lebatnya hujan yang menyiram bumi terasa amat panas mengungkung
Hari-hari selalu dipenuhi berjuta rasa terselubung
Ingin, sangat ingin mengutarakan dalam bentuk lisan tapi sadar pada siapa

Kesakitan yang setiap hari menjadi makanan seperti bagian kecil dari garis takdir
Pada sebilah senyum kugambarkan bahagia yang tiada habis

Seandainya saja,
Jika bisa bolehkah kirim seseorang untuk menjadi pendengar terbaikku
Detak jantung memompa hebat melihat bagaimana kebencian acap kali mereka torehkan
Jiwa serasa hancur, semenjijikan inikah hidupku

Tolong dengar, aksa porak poranda menyaksikan petikan sebaris dua barismu
Amat menyakitkan, aku kesepian
Atas dasar apa tuduhan tak bertuan itu gencar tercetak bebas
Katakan, dimana letak yang seharusnya kuperbaiki jika bagi kalian semua yang melekat pada diriku sudah salah

Percuma,
Adanya pembelaan dan pembuktian bahwa aku benar, jiwa-jiwa keras penyemarak kebencian akan tetap pada pendirian

Selagi masih mampu untukku, tertawa atau tersenyum adalah impianku sejatinya
Cemooh yang sering kuterima menjadi landasan kuat untukku terus mengumbar lengkungan indah
Meski, jiwa hancur sehancur-hancurnya
Hati terlalu kosong guna merasa tenang kembali

Itu pula mengapa berlakon tegar yang pasti kutampilkan
Bukankah dunia panggung sandiwara
Ringisan serta linangan samar yang pernah kutunjukan nyatanya membuatmu semakin menganggapku menyedihkan

Jika tanaman punya fase dimana mereka layu dan berakhir gugur
Demikian halnya denganku, mencari ketenangan yang abadi



Medan, 16 Oktober 2019







As you know the hot news that is rife this week. Mari bijaklah dalam menggunakan media sosial.
#Stopbullying #stopcyberbullying 

Selasa, 15 Oktober 2019

Senandika Jilid VII


PecanduMu
Furi

      Goresan dan jabaran yang tak seberapa ini kuungkapkan untuk menggambarkan sebesar apa hati dan jiwa amat sangat mengasih. Pada Sang Cerah.

      Banyak makna yang tak kuasa terdikte tapi, denganmu semua terasa benar. Tiap pergerakan atau kegiatan bercengkrama kita yang rutin kususul.

      Berhubung Kau segala bintang dan bulan, semesta dari terdepan. Sahutan dan segala bentuk teguran kecil yang kurasa mengerikan sempurna, mengetuk rohani pada siapa kukan berpulang.

      Sedari dulu sampai detik ini, meski aku bukanlah yang terbaik jua sempurna. Namun, jalan tuk menyembahMu jalan tuk meminta padaMu jalan tuk apapun yang kupinta. Hampa tanpaMu, jiwa merintih bodoh, luntang-lantung tak kenal arah. Maka, kesempurnaan hanya milikMu, kuasaMu, krtika bersamaMu.


      Kilatan gerak diri masa lampau serta keterpurukan kala itu. Atas bantuanMu dan kehendakMu. Dari perjalanan panjang hingga nyaris melalui jalan pintas. Bersyukur tanpa kecewa begitu banyak bahwa, pilihan bergantung PadaNya tidak sia-sia.







Medan, 15 Oktober 2019

Senin, 14 Oktober 2019

Senandika Jilid VI


Resah
Oleh : Furi

      Detik dimana waktu berjalan sangat lambat dan cepat. Pikiran ikut berotasi tanpa kata, ada saat rasanya sangat ingin menangis sepuasnya atau tertawa sampai puas.

      Malam ini, berhenti sejenak dari segala kekacauan yang menyebar dalam pikiran. Sedang jari sibuk menari di atas keyboard kebangaan. Menelan pahit hingga terasa manis serta hambar ke komplit.

      Pertikian dua sejoli kasat mata tak kunjung usai, haruskah melenyapkan diri jua. Senandung dari lubuk hati terdalam masih menginginkan menghirup dan menghembuskan oksigen dengan bebas. Meski, seperti mencerna karbondioksida.

      Kepalan tangan setia menggulung pasang, sesekali layangan lima ruas jari pun ikut berpartisipasi. Tak ada kebencian dalam diri, guna berniat saja enggan.

      Banyak hal berkecamuk mengitari sekeliling hidup termasuk sesuatu yang tak terlalu penting sekalipun.

      Beberapa bait yang sungguh membuat khawatir, sementara keyakinan tak sekuat di awal. Berfikir tuk menghilang selamanya namun, bukan itu solusinya. Bagaimanapun, bila tetap bersamaNya kepercayaan diri akan kembali bahkan bertambah berlipat. Banyak jalan yang Ia tunjukkan, segala taktik baru yang aman Ia sarankan, dan kebahagiaan tiada tanding Ia janjikan.

      Jiwa-jiwa rapuh nan lemah seperti ini bukanlah diriku. Terkadang, kelelahan mampu menyulut sedikit ketenangan hati. Tak menyangkal gundah berlapis-lapis seakan datang bertubi tanpa henti.

      Jikalau semua bukan karena mereka dan diri sendiri. Entah sudah hanyut kemana raga tak berguna ini. Lagi-lagi berusaha dikerasnya sepak terjang batin pribadi.







Medan, 14 Oktober 2019

Minggu, 13 Oktober 2019

Tersakiti

Oleh : Furi

Setiap kumbang akan pulang ketika menuju petang sedang, lambang gamang nyaris melayang panjang
Petikan senar gitar muda itu dengan segala harmoni membawa kilas memori masa muda
Terlalu kenyang monolog menanggapi prolog dalam tanda petik
Seutas tambang kian mencekik atau katakan saja pengikat rapuh

Tatkala hati mencelos, mulut terbungkam, rasa meraung gusar
Adakalanya lapisan beton pun akan lemah

Alih-alih ingin tahu, kebanyakan kalimat tanya terselip tanda seru di dalamnya
Riskan kacau dan pecah namun, beruntung masih memilikiNya
Pembuktian tak selamanya tentang ramai kata, ada satu jalan cemerlang
Cuitan cendramata tiap tiba pada sangkar asli

Budi pekerti silih berganti mengantri damai
Sejujurnya tak cukup mampu menghujan bela belagak tangguh
Namun, semesta sedikit bermain
Adakah yang mengutarakan semampu tenaga urung julus setingkat padan

Detik dimana terperosot sakit semerta ria sengit terhadap diri sendiri
Penyaksian langsung memohon petunjuk arah
Karena pada dasarnya, diam seolah berimage buruk untuk sebagian orang
Khalayak berimbuh mesra mengucilkan terhadap pribadi garang bertampang lembut
Suatu saat, semoga gedoran kecil menggelitik rasa kemanusian dari sebagian besar





Medan, 13 Oktober 2019