Oleh: Furi
Tempias yang menimpa kepala sore itu
Padahal laguku sedang baik
Neraca pasir belum berhenti mengalir
Serta gunda yang merayap bebas
Hati keras, pun rasa membeku
Tersenyum simpul guna menyapa
Sedih yang bagaimana sebenarnya
Tutup diary hitam kuganti abu-abu
Ampunilah, aku juga sedang bingung
Pada dasarnya tentang apa
Bagaimana maksudnya saja tidak jelas
Tiap bait ini tak menerangkan apapun
Ambigu,
Kontemporerkah
Atau harus jadi senandika saja
Lalu jika kusebut prosa liris bisakah
Pahami saja intinya
Cerna tiap kataku di dalam sini
Jiwa raga sedang lelah
Tak sanggup bergelung dengan syair yang apik
Medan, 25 September 2019
Tempias yang menimpa kepala sore itu
Padahal laguku sedang baik
Neraca pasir belum berhenti mengalir
Serta gunda yang merayap bebas
Hati keras, pun rasa membeku
Tersenyum simpul guna menyapa
Sedih yang bagaimana sebenarnya
Tutup diary hitam kuganti abu-abu
Ampunilah, aku juga sedang bingung
Pada dasarnya tentang apa
Bagaimana maksudnya saja tidak jelas
Tiap bait ini tak menerangkan apapun
Ambigu,
Kontemporerkah
Atau harus jadi senandika saja
Lalu jika kusebut prosa liris bisakah
Pahami saja intinya
Cerna tiap kataku di dalam sini
Jiwa raga sedang lelah
Tak sanggup bergelung dengan syair yang apik
Medan, 25 September 2019
ππ
BalasHapusππππ salam kenal dari Tokyo
BalasHapusTak terangkai oleh kepalaku
BalasHapusHanya diksi namun entah dengan arti
-Manusia Amatir
Aku juga lelah dg semua ini hmm
BalasHapusMantap Mbak.
BalasHapusSelalu kagum sama yang berpuisi
BalasHapusWow
BalasHapusHaiii, Ka Furiπ₯°
BalasHapusHawlohh..
Hapus