Oleh: Furi
Sembari menghitung logam yang tercecer
Kukeluarkan sebuah lembaran lusuh dari saku
Pinsil usang tak sampai satu jari kelingking
Dan tekad bulat ketika bunyi kerincing hampir tak menyapa rungu
Kuselipkan tersembunyi di belakang nakas
Temaram pijar seakan memihakku
Usapan penuh harap selalu kulantunkan
Pun doa yang tak ada habisnya
Celah sedikit bahkan cerah kupandang
Meski bena menggulung kejam
Candramawa gerabah itu yang kuprioritaskan
Hari-hariku seperti hanya berkutat tentangnya
Kunjungan wisata akhir masa pendidikan kala itu
Ragu menyambangi tiap derapku
Bagaimana paruh merah berjambul disana menginterupsi
Weker yang berdetak terdengar dramatis
Tiba,
Meski sedih mampu meyakinkan
Upaya masa kecil hingga hidungku berbingkai kacamata
Mengembangkan senyum sarat akan tawa
Keberhasilan dulu yang tergantikan kartu elektronik masa kini
Medan, 23 September 2019
Makin hari puisinya makin bernas... cakeep
BalasHapusMantap banget nih.
BalasHapus