Minggu, 22 September 2019

Senandika; jilid I



Bukan alter ego
Furi

          Hirik pikuk kota Metropolitan ini membuatku sebal, pada kesendirian di tengah keramaian yang nyata. Mereka berlalu lalang pada kekehan simetris yang membuat diri ini iri. Sedang, tanpa tahu sebab semestinya aku juga bahagia. Dia ikut bersamaku dan ada di sampingku, kita menghabiskan banyak waktu berdua.

          Konflik batin, selalu tentang itu. Marah, kecewa namun tak pernah jujur untuk bersuara. Terlalu enggan mengungkit hal yang dapat menyakiti satu sama lain. Tapi, tidakkah kejujuran dan saling terbuka itu perlu?

          Disini, lakonku terlalu bertele-tele. Kesal pada dirinya yang tak kunjung meminta maaf. Picisan sekali, aku sadar dia tak bersalah namun, itulah ego seorang wanita yang ingin selalu benar. Singgungan kecil dapat berakibat fatal. Padahal bukan dia yang memulai tapi aku.

          Semanis apapun kisah tertulis ini, akan lebih berwarna jika saling mengerti. Tapi, lagi-lagi ia bungkam dengan sejuta kerinduan yang mendesakku untuk merengkuhnya. Dan lagi-lagi juga egoku masih betah bertahan. Titik "hitam" ini bermula karena kesepelean belaka. Ya, bukan hal penting pun tidak klise sebagaimana halnya dua hati yang saling uring-uringan. Sebab, kita terkurung dengan pemikiran primitif lainnya.

          Senja yang menyaksikan, kuhentak kasar jemari yang tengah bertautan tenang. Pergi tanpa menoleh, saat-saat seperti ini yang kubutuhkan hanya pulang. Bersembunyi di labuhan kapuk sembari menuntaskan keinginanku tuk menghilangkan sesak di rongga dada. Setidaknya genangan liquid di pualamku dapat membantu, setelah lelah, tidur dan semua akan baik-baik saja ketika aku bangun. Harapanku begitu.



Medan, 16 September 2017 (revisi 22 September 2019)

1 komentar: