Oleh : Furi
Geraman dari langit menggetarkan bumi kala bulan tak sudi memunculkan diri
Petang, bahkan amat sangat pekat
Lolongan alam mencakar, halnya raja rimba mengaum unjuk kebolehan
Limpahan dengung menukik tajam beserta arus yang meronta kekar
Mengaliri tiap-tiap daratan sampai terang benderang
Sebatas lutut pada kami tapi, bagaimana dengan mereka
Muncul sebatas kepala nyaris pangkal hidung bersemayam insang
Bukan tak bersyukur atas segala nikmatNya hanya saja tolong jangan melimpah meruah sampai sejauh ini
Siang dan malam hingga berjumpa hari di kemudian tak pernah putus doa berkumandang
Jalan yang tertapaki kini terendam bersama harapan agar lekas pulih
Jeritan sakit beriringan dalam tempo buatan tuk menggiring keamanan
Puluhan jiwa berseragam jingga membantu sesama
Masih tetap di bawah lebatnya guyuran yang enggan menepi
Sukma bukan lagi dingin melainkan hancur hingga tak berpuing
Siraman yang terus tiada henti membekukan waktu mengapa harus terjadi
Tiap tetes tiap butir tiap kerincingannya yang apik saat dulu kecil
Dan besar, harus kuakui menjadi musuh
Vas yang selalu kuisi guna merendam tangkaiku dengan lengan menjulur ke luar jendela
Rintik kecil serta tempias kebanggaan yang acap kali menimbulkan teguran wanita tuaku
Dulu, dan masanya telah berganti sebab kini pepatah kecil kawan ketika besar menjadi lawan itu nyata
Medan, 10 Oktober 2019
Geraman dari langit menggetarkan bumi kala bulan tak sudi memunculkan diri
Petang, bahkan amat sangat pekat
Lolongan alam mencakar, halnya raja rimba mengaum unjuk kebolehan
Limpahan dengung menukik tajam beserta arus yang meronta kekar
Mengaliri tiap-tiap daratan sampai terang benderang
Sebatas lutut pada kami tapi, bagaimana dengan mereka
Muncul sebatas kepala nyaris pangkal hidung bersemayam insang
Bukan tak bersyukur atas segala nikmatNya hanya saja tolong jangan melimpah meruah sampai sejauh ini
Siang dan malam hingga berjumpa hari di kemudian tak pernah putus doa berkumandang
Jalan yang tertapaki kini terendam bersama harapan agar lekas pulih
Jeritan sakit beriringan dalam tempo buatan tuk menggiring keamanan
Puluhan jiwa berseragam jingga membantu sesama
Masih tetap di bawah lebatnya guyuran yang enggan menepi
Sukma bukan lagi dingin melainkan hancur hingga tak berpuing
Siraman yang terus tiada henti membekukan waktu mengapa harus terjadi
Tiap tetes tiap butir tiap kerincingannya yang apik saat dulu kecil
Dan besar, harus kuakui menjadi musuh
Vas yang selalu kuisi guna merendam tangkaiku dengan lengan menjulur ke luar jendela
Rintik kecil serta tempias kebanggaan yang acap kali menimbulkan teguran wanita tuaku
Dulu, dan masanya telah berganti sebab kini pepatah kecil kawan ketika besar menjadi lawan itu nyata
Medan, 10 Oktober 2019
Dan ada berkah setelahnya.. 😁
BalasHapusKeren, Kak puisinya.
Salam kenal dari Valletta 🙏💐
Wagelasih,😢❤
BalasHapusSemoga tidak semua kawan kecil dan besar lawan
BalasHapusAdudu puisinyaa :'). Salam kenal kak, aki dari Valettaaa
BalasHapusCerita tentang pemadam api keabakaran ya?
BalasHapusAku suka diksinya. Keren, Kak.
BalasHapusmenurut aku pusinya maskulin sekali. pengen nulis puisi kayak gini juga.
BalasHapusIni bgus bngedd
BalasHapusTentang banjirkah? Hehe
BalasHapusBagus puisi hujannya.
BalasHapus