Oleh : Furi
Yang baru saja berdatangan dari luar ruang mengajarkan keberanian tak terbatas
Semenjak hadir tirai-tirai dari berbagai cangkang kerang maupun bahan elastis lainnya
Penyusupan berbagai ide atau kreatifitas membludak
Dari pelancong hingga tuan rumah sendiri
Keluar masuk tanpa pandang kisi, lalu-lalang terus tiada henti
Saat mentari di ufuk Timur tak kuasa hati nenerobos dalam bahagia mendera
Ketika berlabuh pada bagian Barat petangnya amat mengagar
Suara batin selaras rundung pilu, akankah kebersamaan yang menjerat kuat ini kian melonggar
Meski baru awal dan dalam fase rawan sebab mendapat restu atas permainan
Suram di tempat tanpa ruang, namun sekeliling penuh jurang
Pajangan lukisan di plafon bak penghalang tempias masuk
Renda hitam putih yang semula menempel sendu kuganti merah menyala bersama pernik
Lintingan garis pinggir pada kain biru mampu kulepas tegas
Walau tak semudah berucap dan satu raga kuat memperjelas, bukan lagi semangat tapi sebuah keharusan
Pintu selebar dua lengan anak remaja itu tertutup rapat, sangat
Terbilang kokoh sementara guyuran lain terus menghujami
Jendela yang tak secantik mansion orang-orang berduit namun berdampingan dengan daun penghubung alam bebas
Di sana,
Tutur tak sanggup berlisan serta tawa terasa canggung
Terpaan lembut menyapa surai tuk dibawa ke dalam sebuah pelukan
Lagi, tamu sungguhan melewati jalur pintu yang sama
Mengetuk lembut dengan cara yang beragam
Medan, 21 Oktober 2019
Yang baru saja berdatangan dari luar ruang mengajarkan keberanian tak terbatas
Semenjak hadir tirai-tirai dari berbagai cangkang kerang maupun bahan elastis lainnya
Penyusupan berbagai ide atau kreatifitas membludak
Dari pelancong hingga tuan rumah sendiri
Keluar masuk tanpa pandang kisi, lalu-lalang terus tiada henti
Saat mentari di ufuk Timur tak kuasa hati nenerobos dalam bahagia mendera
Ketika berlabuh pada bagian Barat petangnya amat mengagar
Suara batin selaras rundung pilu, akankah kebersamaan yang menjerat kuat ini kian melonggar
Meski baru awal dan dalam fase rawan sebab mendapat restu atas permainan
Suram di tempat tanpa ruang, namun sekeliling penuh jurang
Pajangan lukisan di plafon bak penghalang tempias masuk
Renda hitam putih yang semula menempel sendu kuganti merah menyala bersama pernik
Lintingan garis pinggir pada kain biru mampu kulepas tegas
Walau tak semudah berucap dan satu raga kuat memperjelas, bukan lagi semangat tapi sebuah keharusan
Pintu selebar dua lengan anak remaja itu tertutup rapat, sangat
Terbilang kokoh sementara guyuran lain terus menghujami
Jendela yang tak secantik mansion orang-orang berduit namun berdampingan dengan daun penghubung alam bebas
Di sana,
Tutur tak sanggup berlisan serta tawa terasa canggung
Terpaan lembut menyapa surai tuk dibawa ke dalam sebuah pelukan
Lagi, tamu sungguhan melewati jalur pintu yang sama
Mengetuk lembut dengan cara yang beragam
Medan, 21 Oktober 2019
Aku masih menungguimu
BalasHapusDibalik pintu lusuh itu
Kapan kau datang ?