Senin, 21 Oktober 2019

Pintu tak Berpintu

Oleh : Furi

Yang baru saja berdatangan dari luar ruang mengajarkan keberanian tak terbatas
Semenjak hadir tirai-tirai dari berbagai cangkang kerang maupun bahan elastis lainnya
Penyusupan berbagai ide atau kreatifitas membludak

Dari pelancong hingga tuan rumah sendiri
Keluar masuk tanpa pandang kisi, lalu-lalang terus tiada henti

Saat mentari di ufuk Timur tak kuasa hati nenerobos dalam bahagia mendera
Ketika berlabuh pada bagian Barat petangnya amat mengagar

Suara batin selaras rundung pilu, akankah kebersamaan yang menjerat kuat ini kian melonggar
Meski baru awal dan dalam fase rawan sebab mendapat restu atas permainan
Suram di tempat tanpa ruang, namun sekeliling penuh jurang
Pajangan lukisan di plafon bak penghalang tempias masuk

Renda hitam putih yang semula menempel sendu kuganti merah menyala bersama pernik
Lintingan garis pinggir pada kain biru mampu kulepas tegas
Walau tak semudah berucap dan satu raga kuat memperjelas, bukan lagi semangat tapi sebuah keharusan

Pintu selebar dua lengan anak remaja itu tertutup rapat, sangat
Terbilang kokoh sementara guyuran lain terus menghujami
Jendela yang tak secantik mansion orang-orang berduit namun berdampingan dengan daun penghubung alam bebas

Di sana,
Tutur tak sanggup berlisan serta tawa terasa canggung
Terpaan lembut menyapa surai tuk dibawa ke dalam sebuah pelukan
Lagi, tamu sungguhan melewati jalur pintu yang sama
Mengetuk lembut dengan cara yang beragam




Medan, 21 Oktober 2019

1 komentar:

  1. Aku masih menungguimu
    Dibalik pintu lusuh itu
    Kapan kau datang ?

    BalasHapus