Jumat, 04 Oktober 2019

Senandika Jilid III


47,9cm
Oleh : Furi


          Lubang di depan sana yang mempertemukan kita, bukan roman picisan agar sengaja mendapat perhatian. Kebenarannya, aku malu sampai ingin membungkus muka dengan lelehan lilin.

          Kerikil kurang ajar itu membuatku jadi bodoh sesaat. Kutendang pun percuma, sementara untuk menyangga tubuh sendiri tak bisa. Kekehan kecil di sudut bibirnya menambah kemerahan pualamku.

          Beruntung kepala tertutup tembikar lebar, menyembunyikan fakta yang sudah terlihat jelas. Derap langkah yang kian menyita genderang telingaku membawa cemas semakin besar. Pada saat-saat seperti ini, tolong jangan mendekat.

          Namun, snekeers putih menyapa obsidian kala kualihkan pandangan ke depan. Semburat merah jambu menjadi semakin merekah, seperti kepiting rebus. Hendak berdiri, cekalan lengannya lebih dulu memapahku.

          Tiada suara yang berkepentingan unjuk rasa. Hanya deru nafas satu-sama lain yang saling bersahutan.

          Sampai pada baja hijau lumut di sekitar taman. Duduk tenang masih enggan mengungkap kata. Kulirik, tawa ringan kembali mengembang padanya. Sedang aku, mengernyit tak suka.

          Dilepasnya benda bulat yang melingkar di kepalaku, jarak yang sungguh membuat pacu jantung berdetak tidak normal. Kali ini senyum menenangkan yang kudapat. Sepanjang penggaris tidak lebih 50cm.

          Ingin marah tapi, lengkungan simetrisnya berhasil mempengaruhiku. Alih-alih marah, di sana kutangkap jelas paras dan tawanya dalam Centi yang tak terlalu dekat ataupun jauh. Sampai dimana hanya tawa sumbang kitalah yang menuntun suasana.






Medan, 4 Oktober 2019

2 komentar:

  1. Mantap 👍 👍
    Sudah Kaya untuk diksinya
    Semangat berkarya 👍 👍❤

    BalasHapus
  2. Wow...mantap
    Tetap semangat💪💪

    BalasHapus