Oleh : Furi
Semua bermula dari waktu makan siang kurang empat puluh sembilan menit, padatnya gerai seakan tak memberi peluang
Menoleh bingung menemukan pelangi di luasnya Samudra
Kala itu pandanganku mengabur sebab kabut menyelimuti tanpa celah
Perahu kertas oleng terhantam ombak yang pasang tiba-tiba
Dari kejauhan sosoknya seperti kapas
Terkejut dalam khidmat, yang semula siap mengejar brutal
Namun, tersandung karang sampai karam
Kurang dari empat puluh sembilan menit sebelum tepat mendarat ke pusat
Pesiar yang tak kunjung rampung
Kutemukan labuhan lainnya sembari meringis sesak
Tungkaiku seperti menginjak samurai di atas lantai es
Tertawa sumbang atau menangis kesakitan, nyatanya kutersenyum puas
Nampan lezat pun tergeletak sia-sia, undur diri
Kemudian menenteng aluminium yang tercecer
Di dinginnya bentangan Samudra tersebut, langsung turun hujan
Yang semula suasa desa tengah mengalami musim semi
Mengandai terlalu banyak pada realita bar-bar, mengatasnamakan gejolak membara
Waktu bergerak terlalu cepat sampai secuil kisah tinggal kenangan
Memori lampau yang menggantung
Hingga pertemuan kembali di bandar udara
Masih kurang dari empat puluh sembilan menit, sebelum menerbangkan ragaku ke belahan bumi lainnya
Medan, 26 September 2019
Semua bermula dari waktu makan siang kurang empat puluh sembilan menit, padatnya gerai seakan tak memberi peluang
Menoleh bingung menemukan pelangi di luasnya Samudra
Kala itu pandanganku mengabur sebab kabut menyelimuti tanpa celah
Perahu kertas oleng terhantam ombak yang pasang tiba-tiba
Dari kejauhan sosoknya seperti kapas
Terkejut dalam khidmat, yang semula siap mengejar brutal
Namun, tersandung karang sampai karam
Kurang dari empat puluh sembilan menit sebelum tepat mendarat ke pusat
Pesiar yang tak kunjung rampung
Kutemukan labuhan lainnya sembari meringis sesak
Tungkaiku seperti menginjak samurai di atas lantai es
Tertawa sumbang atau menangis kesakitan, nyatanya kutersenyum puas
Nampan lezat pun tergeletak sia-sia, undur diri
Kemudian menenteng aluminium yang tercecer
Di dinginnya bentangan Samudra tersebut, langsung turun hujan
Yang semula suasa desa tengah mengalami musim semi
Mengandai terlalu banyak pada realita bar-bar, mengatasnamakan gejolak membara
Waktu bergerak terlalu cepat sampai secuil kisah tinggal kenangan
Memori lampau yang menggantung
Hingga pertemuan kembali di bandar udara
Masih kurang dari empat puluh sembilan menit, sebelum menerbangkan ragaku ke belahan bumi lainnya
Medan, 26 September 2019
Dalam terasa.
BalasHapusMenginjak samurai di atas es, ngilu ngebayanginnya..
BalasHapus