Kamis, 26 September 2019

11:11

Oleh : Furi

Semua bermula dari waktu makan siang kurang empat puluh sembilan menit, padatnya gerai seakan tak memberi peluang
Menoleh bingung menemukan pelangi di luasnya Samudra
Kala itu pandanganku mengabur sebab kabut menyelimuti tanpa celah

Perahu kertas oleng terhantam ombak yang pasang tiba-tiba

Dari kejauhan sosoknya seperti kapas
Terkejut dalam khidmat, yang semula siap mengejar brutal
Namun, tersandung karang sampai karam

Kurang dari empat puluh sembilan menit sebelum tepat mendarat ke pusat
Pesiar yang tak kunjung rampung
Kutemukan labuhan lainnya sembari meringis sesak
Tungkaiku seperti menginjak samurai di atas lantai es
Tertawa sumbang atau menangis kesakitan, nyatanya kutersenyum puas

Nampan lezat pun tergeletak sia-sia, undur diri
Kemudian menenteng aluminium yang tercecer

Di dinginnya bentangan Samudra tersebut, langsung turun hujan
Yang semula suasa desa tengah mengalami musim semi
Mengandai terlalu banyak pada realita bar-bar, mengatasnamakan gejolak membara

Waktu bergerak terlalu cepat sampai secuil kisah tinggal kenangan
Memori lampau yang menggantung
Hingga pertemuan kembali di bandar udara
Masih kurang dari empat puluh sembilan menit, sebelum menerbangkan ragaku ke belahan bumi lainnya





Medan, 26 September 2019

2 komentar: