Sepakat
Furi
Di ujung sana bayang hitam menghampiri perlahan
Rongsok mengoyak sanubari bak pendekar sakti
Memuncak, tumpah ruah menenggelamkan diri
Segelintir nyeri menusuk rusuk
Kau yang kian jauh atau aku yang merenggang
Kau picik dengan caramu atau aku yang terlalu egois
Atau kita bergerak terlalu lambat
Saliva mencekik guratan sangar tampang lembut
Kegaduhan yang tak kunjung usai
Sebab hati masih tetap bertahan
Kelakarmu demikian, pun aku yang terdiam
Tak ada lisan,
Seperti biasa kita bersua
Hubungan ini yang tak ternilai antara dua kepala
Semburat syahdu selalu mengecoh
Kau, pemakai mahkota Rajamu sendiri
Sedang aku penikmat erat realita klasik
Kau kobaran api sedang aku suka meredahkan
Merenggut kilatmu sampai telak tak bersisa
Kita kontras sebagaimana jalan ceritapun usai
Medan, 8 Juli 2019 (revisi 18 September 2019)
Di tunggu kunjungan ny kk
BalasHapusKeren puisinya..
BalasHapusπππ
BalasHapusKerenπ
BalasHapusKeren
BalasHapuskeren banget kak masyaAllah. "saliva mencekik guratan….." terbaik
BalasHapusWaduh...kau yang kian jauh atau aku yang merenggang
BalasHapusSaling bertahan pada pendirian masing-masing, bagaimana bisa menyatu?
BalasHapusTolong dibaca ulang dan dipahami lagi maksud puisinya ya kakπ
HapusKeren kalau puisi, soalnya kalau saya KO di puisi, hehe
BalasHapusCadaaaas. Teruskaan.
BalasHapus